Jalan Rusak di Perbukitan Tapanuli Selatan Hambat Petani
Dusun Sirame-ramean dan Aek Martolu, Tapanuli Selatan — Jalan berlubang dan berubah menjadi lumpur saat hujan membuat aktivitas petani terganggu, menaikkan ongkos angkut, serta mengancam keselamatan warga setempat.
Kondisi jalan dan dampak langsung
Akses sepanjang sekitar 1,5 kilometer dari Dusun Pangaribuan menuju perbukitan Desa Sisundung, Kecamatan Angkola Barat, sering dalam kondisi rusak. Saat hujan turun, badan jalan licin dan berlumpur sehingga kendaraan kesulitan menanjak maupun menurun.
Petani salak, pemilik kebun karet, dan keluarga lainnya harus menempuh rintangan berupa lubang, batu, dan tanah licin setiap hari. Kondisi ini tidak hanya memperlambat mobilitas, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan.
Biaya angkut meningkat, pendapatan tergerus
Kesulitan akses berdampak langsung pada biaya untuk membawa hasil kebun ke pasar. Warga membayar sekitar Rp15.000 untuk mengangkut 30 kilogram salak ke Desa Sigumuru, dan sekitar Rp20.000 per karung untuk getah karet.
Sebagian pendapatan petani kembali terpotong hanya untuk ongkos angkut. Akibatnya, nilai bersih hasil panen menurun meski tenaga dan waktu yang dicurahkan tetap besar.
Pengalaman harian warga
Bagi yang sehari-hari melewati jalan ini, kondisi berlumpur bukan kejadian luar biasa, melainkan kenyataan berat yang harus dilalui. Selain kesulitan angkutan, warga khawatir anak-anak dan anggota keluarga pulang-pergi tanpa jaminan keselamatan di musim hujan.
Entah kapan derita warga selesai.
— M Dalimunthe, Selasa (15/9)
Harapan dan implikasi pembangunan
Warga menegaskan bahwa mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap jalan yang layak agar ongkos angkut turun, pemasaran hasil bumi lebih mudah, dan keselamatan terjamin. Jalan yang baik juga berarti membuka peluang ekonomi dan meningkatkan daya saing harga jual petani.
Infrastruktur jalan dianggap sebagai urat nadi kehidupan di kawasan perbukitan ini. Perbaikan akses tidak hanya membangun badan jalan, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan bagi keluarga petani di Tapanuli Selatan.
Apa yang dinantikan warga
Warga menanti perhatian dari pemerintah daerah agar penanganan jalan rusak segera dilakukan. Mereka berharap perbaikan nyata dapat mengurangi beban biaya, meningkatkan keselamatan, dan mendorong kelancaran aktivitas ekonomi di Dusun Sirame-ramean dan Aek Martolu.
Lumpur yang menempel di roda sepeda motor dan kendaraan berat kini menjadi saksi panjangnya penantian tersebut, dan perbaikan jalan dinilai sebagai langkah awal mengembalikan harapan petani.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
PTPN IV Langsa Peringati Maulid dan Santuni 100 Anak Yatim
PTPN IV Regional IV peringati Maulid Nabi di Langsa dan santuni 100 anak yatim, menekankan integritas, ketel...
Langsa Jadi Lokus Visitasi PKN II untuk Pemulihan Pascabencana
Pemko Langsa menerima 32 peserta PKN II untuk mempelajari kepemimpinan adaptif dan praktik pemulihan pascabe...
Tiga Calon Lolos Seleksi Administrasi Direktur Perumda Air Minum Langsa
Pemko Langsa menetapkan tiga calon lulusan seleksi administrasi Direktur Perumda Air Minum Tirta Keumuneng p...
RUUPA Aceh Perlu Ditelaah, Prof Muzakkir: Jangan Puas Delapan Pasal
Prof Muzakkir minta RUUPA Aceh ditelaah ulang meski sudah diparipurnakan; masih terbuka ruang konstitusional...
Polres Tapteng Tangkap Pemuda Tersangka Sabu 0,39 gram
Satresnarkoba Polres Tapteng menangkap DB (22) di Pinangsori, 11 Sept, dengan barang bukti sabu seberat 0,39...
Dayah Darul Quran Aceh Kirim Delegasi ke MTQ Nasional 2026
Dayah Darul Quran Aceh mengirim tiga wakil ke MTQ Nasional XXXI 11–20 Sept 2026 di Semarang; direktur juga d...