Olahraga

Ismael Saibari: Dari Anak Sulit Berjalan hingga Penentu Kemenangan Maroko

Bagikan:
Ismael Saibari memeluk sang ibu setelah mencetak penalti penentu Maroko

Ismael Saibari menjadi sorotan usai mengeksekusi penalti penentu kemenangan Maroko atas Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026, lalu berlari ke tribun dan memeluk sang ibu—momen yang menyentuh jutaan penonton. Aksi itu terjadi segera setelah adu penalti yang memastikan Maroko melaju ke babak 16 besar.

Momen emosional di tribun

Pelukan Saibari kepada ibunya terekam kamera dan viral di media sosial. Banyak pengguna menyebut adegan itu sebagai salah satu momen paling mengharukan turnamen. Emosi pemain dan keluarga langsung menjadi sorotan setelah tendangan penentu mengakhiri drama panjang malam itu.

Kelainan bawaan yang sulit

Di balik selebrasi, perjalanan hidup Saibari tidak mudah. Ia lahir dengan kelainan bawaan pada kedua kakinya yang membuat telapak kaki menghadap ke dalam secara ekstrem, sehingga ia kesulitan berjalan pada masa kecil.

"Ya, kaki saya menghadap jauh ke dalam sehingga saya harus menggunakan alat khusus. Bahkan dokter pernah mengatakan kepada orang tua saya bahwa mungkin saya tidak akan bisa berjalan dengan normal seumur hidup,"

Pernyataan itu disampaikan Saibari dalam wawancara pada 2024, menggambarkan betapa kelamnya prediksi yang sempat mengiringi masa kecilnya.

Terapi, dukungan ibu, dan perpindahan keluarga

Saibari menjalani terapi menggunakan penyangga ortopedi selama lebih dari satu tahun untuk membantu membentuk posisi tulangnya. Selama proses itu, peran ibunya krusial; ia tak pernah kehilangan harapan dan selalu mendampingi pengobatan putranya.

"Ibu saya hanya berdoa agar saya bisa hidup normal. Syukurlah, sekarang saya memiliki kaki yang normal dan tubuh yang sehat,"

Pada 2007, krisis keuangan yang melanda Spanyol memaksa keluarganya pindah ke Belgia saat Saibari berusia enam tahun. Meskipun menghadapi perubahan dan keterbatasan, kecintaannya pada sepak bola terus hidup.

Dari terapi ke panggung Piala Dunia

Perjalanan panjang latihan dan pemulihan membawa Saibari ke level profesional dan akhirnya ke panggung Piala Dunia bersama timnas Maroko. Pada laga melawan Belanda, Maroko sempat tertinggal sebelum terjadi dramatisasi di akhir pertandingan.

Pada masa injury time, Issa Diop menyamakan skor sehingga pertandingan berlanjut ke babak tambahan, lalu ke adu penalti. Saibari dipercaya menjadi salah satu eksekutor dan sukses menjadi penendang penentu yang memastikan kemenangan Maroko atas Belanda.

Penuh makna, keberhasilan Saibari bukan hanya soal teknik di lapangan. Momen pelukan kepada sang ibu merepresentasikan kemenangan pribadi setelah melewati rintangan fisik dan sosial. Ke depannya, Saibari dipandang sebagai inspirasi bagi atlet muda yang menghadapi tantangan serupa.

Yoga Prasetyo
Penulis
Yoga Prasetyo

Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.

Berita Terkait