Rupiah Melemah ke Rp17.947 di Pembukaan, BI Diperkirakan Pertahankan Kebijakan
Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Pada pembukaan, rupiah tercatat melemah 0,22 persen atau sekitar 40 poin menjadi Rp17.947 per dolar AS. Pelemahan datang di tengah menguatnya dolar AS dan antisipasi pasar terhadap data inflasi Juni 2026.
Pembukaan pasar dan pergerakan terbaru
Rupiah melemah setelah sehari sebelumnya ditutup juga di zona negatif. Sentimen global yang menguatkan dolar mendorong aliran modal keluar dari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang. Pelaku pasar memilih berhati-hati menjelang rilis angka inflasi domestik yang dinanti pasar.
Faktor pendorong: dolar kuat dan risiko inflasi
Menurut analis pasar uang Jessica Tasijawa dari Mirae Asset Sekuritas, salah satu pendorong utama adalah penguatan indeks dolar AS. Hal ini meningkatkan tekanan pada mata uang emerging market termasuk rupiah.
"Nilai tukar masih melemah seiring menguatnya indeks dolar AS ke level 101,3," kata Jessica.
Jessica menambahkan risiko inflasi global yang masih tinggi dan ketidakpastian makro membuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini menaikkan premi risiko bagi Indonesia dalam jangka pendek.
"Akibatnya, premi risiko Indonesia tetap pada level yang relatif tinggi dalam jangka pendek," ujarnya.
Pengaruh inflasi domestik dan komoditas
Jessica memperkirakan inflasi umum Indonesia pada Juni 2026 naik menjadi sekitar 3,2 persen (yoy). Kenaikan itu dipicu oleh beberapa komoditas, termasuk energi.
Contohnya, harga Pertamax naik sebesar 0,3 persen menjadi Rp16.250 per liter. Selain itu, kenaikan harga minyak global dan dampak awal El Niño terhadap pasokan pangan turut menekan harga konsumen.
"Namun, tekanan inflasi diperkirakan sebagian akan diimbangi penurunan harga sejumlah komoditas pangan utama," jelas Jessica, merujuk pada potensi penurunan harga daging ayam, telur, dan cabai rawit.
Implikasi kebijakan Bank Indonesia
Dengan volatilitas rupiah dan tren inflasi yang meningkat, Jessica melihat masih ada ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan atau melanjutkan pengetatan kebijakan moneter. Ekspektasi pasar saat ini cenderung menempatkan BI pada sikap hawkish untuk mengendalikan tekanan harga dan stabilitas nilai tukar.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada data inflasi yang akan dirilis serta arah suku bunga global. Jika inflasi domestik lebih tinggi dari perkiraan, tekanan pada rupiah dan peluang pengetatan kebijakan BI kemungkinan meningkat.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KAI Buka IP Contest 2026, Hadiah Utama Rp50 Juta
KAI menggelar IP Contest 2026 berhadiah utama Rp50 juta. Pendaftaran 21 Juni–26 Juli 2026, buka untuk WNI; i...
KAI Catat 1,15 Juta Pemesanan Tiket Diskon saat Libur Sekolah
KAI mencatat 1,155,879 tiket diskon 30% terpesan selama libur sekolah (20 Juni–5 Juli 2026), atau 98,40% dar...
Lima BPR di Sumatera Digabung ke PT BPR Mangatur Ganda, OJK Setuju
OJK menyetujui penggabungan lima BPR ke PT BPR Mangatur Ganda, memperkuat modal dan aset untuk ekspansi pemb...
PLN Jakarta Raya Luncurkan Pembatik Muda untuk Perkuat UMKM Kreatif
PLN UID Jakarta Raya gelar Pembatik Muda di Rumah Batik Palbatu setiap Sabtu Juni 2026, latih 28 peserta unt...
OJK: Saham Anjlok Tak Terkait Pidato Prabowo, Imbau Investor Rasional
OJK imbau investor rasional setelah viral klaim pidato Prabowo terkait koreksi IHSG; fokus pada laporan keua...
Penumpang KA BIAS Naik 24,9% Jadi 375.032 Hingga Mei 2026
KA BIAS angkut 375.032 penumpang Jan–Mei 2026, naik 24,90%; rata-rata 2.483 penumpang/hari dan tambahan 74.7...