Ipung, Penjual Lumpia 46 Tahun di Gelora 10 November
Surabaya — Ipung, penjual lumpia yang telah menggelar dagangan sejak 1980, kembali ramai melayani pembeli di sekitar Gelora 10 November saat pertandingan Soekarno Cup 2026 pada Kamis (13/8/2026). Dalam beberapa jam dagangannya ludes karena bertambahnya penonton dan keluarga pemain yang datang menonton.
Lumpia dan lapangan: 46 tahun berdagang
Ipung mulai berjualan lumpia di kawasan Gelora 10 November sejak 1980. Selama 46 tahun, ia menyaksikan perubahan kota, generasi penonton, dan suasana stadion. Meski banyak yang berubah, keberadaan Ipung di tepi lapangan tetap konsisten.
Baginya, berjualan bukan sekadar soal omzet. Lapangan olahraga juga menjadi ruang hidup dan tempat ia menonton sepak bola sambil bekerja.
Ramai saat Soekarno Cup 2026
Turnamen usia muda itu membawa pemain, ofisial, dan keluarga dari berbagai daerah ke Gelora 10 November. Kepadatan penonton membuat arus pembeli aktif sepanjang hari. Hasilnya, seluruh persediaan lumpia Ipung habis dalam hitungan jam.
"Baru beberapa jam saja sudah habis. Ramai sekali, banyak yang datang bahkan hanya di depan saja itu,"
Keramaian acara menjadi penentu langsung meningkatnya penjualan bagi pedagang kaki lima seperti Ipung.
Dampak ekonomi bagi pedagang kecil
Bagi pedagang kecil, acara olahraga skala lokal hingga regional memberi dorongan ekonomi nyata. Ipung mengatakan, keuntungan dari berjualan membantu ia menghidupi keluarga dan mendanai pendidikan anak-anaknya.
"Alhamdulillah dari jualan lumpia ini saya bisa menyekolahkan anak-anak saya. Jadi ya, ini sudah menjadi pekerjaan saya sejak dulu,"
Selain pemasukan, lokasi berjualan di dekat lapangan memberi nilai tambah bagi Ipung karena ia bisa menonton pertandingan yang disukainya.
"Kalau jualan di sini saya senang, karena bisa jualan sekaligus lihat bola. Saya memang suka olahraga sepak bola,"
Antara lapangan dan dapur
Di dalam lapangan, pemain muda berlomba mengejar mimpi karier profesional. Di luar lapangan, Ipung dan pedagang lain berjuang memenuhi kebutuhan harian. Keduanya saling terkait oleh satu faktor sederhana: kerumunan penonton.
Saat pertandingan membuat kawasan ramai, dapur keluarga Ipung ikut menyala. Ia berharap acara serupa terus digelar sehingga aliran pengunjung yang membantu nafkahnya tetap ada.
Soekarno Cup mungkin akan dikenang karena gol dan piala. Namun bagi banyak pedagang lokal, termasuk Ipung, pertandingan juga berfungsi sebagai peluang ekonomi yang menopang hidup puluhan tahun.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
DPRD Minta Timsel Independen dalam Seleksi Direksi 5 BUMD Surabaya
DPRD Surabaya minta Timsel independen agar seleksi direksi lima BUMD bebas tekanan politik; pendaftaran dipe...
Raperda APBD 2027 Bondowoso: DPRD Pertanyakan Utang Rp45 Miliar
Wakil Ketua DPRD Bondowoso minta penjelasan rencana utang Rp45 miliar dalam Raperda APBD 2027, termasuk tuju...
PDI-P Minta Penjelasan Urgensi Audit Forensik BPKH
Wakil Ketua Komisi VIII minta Kemenag jelaskan dasar urgensi audit forensik BPKH agar pengawasan berbasis fa...
Tiga Pilar Cup Ngawi Dongkrak UMKM dan Dukung Persinga
Turnamen Tiga Pilar Cup Ngawi menarik penonton, memasuki babak delapan besar, dan menggerakkan UMKM serta du...
Surabaya Abaikan Desil sebagai Acuan Bansos, Verifikasi Dilakukan Langsung
Pemkot dan DPRD Surabaya sepakat desil tak lagi jadi patokan bansos; verifikasi dilakukan lewat forum RT ter...
Puan Atur Pertemuan Prabowo–Megawati Bersama PDIP dan Gerindra
Puan Maharani akan mengatur pertemuan lanjutan antara Prabowo dan Megawati bersama PDIP dan Gerindra usai ku...