Internet Kapal Mati saat Global Sumud Flotilla Dicegat Israel
Relawan kemanusiaan Indonesia menyatakan kapal Global Sumud Flotilla kehilangan akses internet beberapa jam sebelum dicegat militer Israel di perairan internasional pada Senin, 19 Mei 2026 sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Gangguan itu membuat dokumentasi penangkapan tidak sempat dikirim keluar kapal.
Kronologi penangkapan
Andre Prasetyo Nugroho, salah satu relawan di kapal, mengatakan rombongan berada sekitar 200 mil dari Gaza ketika dicegat. Menurutnya, upaya menembus blokade gagal dan kapal akhirnya dihentikan oleh pasukan yang melakukan intersepsi di laut.
Gangguan internet dan dampaknya
Andre menuturkan koneksi internet kapal putus beberapa jam sebelum penangkapan. Ia menyebut perangkat Starlink kapal sudah tidak bisa tersambung sekitar tiga jam sebelum intersepsi, sehingga komunikasi dan pengiriman rekaman terhenti.
“Dua ratus mil lagi menuju Gaza terus abis itu udah langsung di intercept. Sebelum di intercept tiga jam itu Starlink kapal saya udah enggak bisa konek internet manapun,”
Akibat matinya akses, para relawan kehilangan kemampuan untuk mengunggah bukti visual atau melaporkan kondisi real time ke pihak luar. Hal ini juga memaksa mereka mengambil tindakan perlindungan terhadap barang-barang yang dinilai berisiko.
Barang yang dibuang demi keamanan
Andre mengaku sempat merekam banyak momen dengan ponsel pribadinya selama perjalanan. Namun ketika sinyal hilang dan khawatir perangkat disita, beberapa relawan memilih membuang ponsel dan benda lain yang dianggap berbahaya.
“Nah handphone itu gue ngerekam banyak sekali cuma pada akhirnya kan no service. Akhirnya udah gue buang,”
Selain ponsel, beberapa alat dapur dan benda tajam dikumpulkan lalu dibuang agar tidak dianggap sebagai ancaman oleh militer yang menguasai situasi.
“Ada yang dibuang langsung, ada yang dikolektifin dulu ke satu orang, ke organizer dia buang bareng. Enggak cuma handphone, alat-alat dapur kayak pisau yang tajam itu dibuang juga,”
Solidaritas di tengah tekanan
Walau misi gagal menembus blokade, Andre menyatakan semangat relawan tetap kuat. Ia menyoroti kebersamaan antara aktivis dan jurnalis di kapal sebagai sumber daya tahan saat menghadapi intimidasi dan penahanan.
“Yang menguatkan gue disana sih lebih karena satu lingkungannya. Aktivis-aktivis ini sama jurnalis ini tuh guyub,”
Andre menyampaikan keyakinan bahwa gerakan Global Sumud Flotilla akan terus berlanjut meski menghadapi hambatan operasional dan tindakan keras di laut.
Peristiwa ini menyoroti bagaimana gangguan komunikasi dapat mengurangi transparansi dalam operasi kemanusiaan di kawasan konflik dan menimbulkan tantangan tambahan bagi relawan yang bekerja di lapangan.
Berita Terkait
BNPP: Perbatasan RI-Malaysia di Nangabadau Rawan Barang Ilegal
BNPP menemukan PPKP Nangabadau rawan peredaran barang ilegal dan narkotika; butuh penguatan pengawasan, infr...
Revisi UU HAM Perkuat Kewenangan Pengawasan Komnas HAM
Pemerintah mengajukan revisi UU HAM untuk memperkuat kewenangan Komnas HAM, termasuk penyidikan dan pemantau...
GPCI: Relawan Global Sumud Alami Penyiksaan saat Ditahan Israel
GPCI menyatakan sembilan relawan Global Sumud dipulangkan setelah mengalami penyiksaan dan interogasi keras...
Wamenkomdigi: Regulasi AI Harus Bersifat Adaptif
Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan regulasi AI harus adaptif, tidak reaksioner, untuk mengakomodasi adopsi...
Andre Prasetyo: Fokus Perhatian ke Rakyat Gaza, Bukan Relawan
Andre Prasetyo meminta perhatian global fokus pada penderitaan warga Gaza, bukan pada penahanan relawan, usa...
BGN Waspada Penipuan Mitra MBG yang Janjikan Titik SPPG
BGN mengingatkan masyarakat waspada penipuan mengatasnamakan mitra MBG yang menjanjikan titik SPPG dengan me...