Inflasi Mei 2026 Melonjak, Apindo Wanti-wanti Dampak pada Daya Beli
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperingatkan risiko penurunan konsumsi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28% (mtm) dan 3,08% (yoy), naik dari posisi April 2026 yang 2,42% (yoy). Peringatan ini disampaikan seiring kekhawatiran melemahnya daya beli yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kenaikan inflasi Mei 2026
BPS melaporkan inflasi bulan Mei terutama ditopang oleh kenaikan harga pangan. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi kontributor terbesar, dengan andil inflasi bulanan sebesar 0,12 persen. Kenaikan harga terutama dipicu oleh minyak goreng dan cabai merah.
Dampak terhadap daya beli dan konsumsi
Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, menilai kenaikan inflasi mencerminkan naiknya harga barang dan jasa yang langsung menggerus kemampuan beli masyarakat. Ia memperingatkan pengurangan belanja rumah tangga sebagai respons utama konsumen.
“Masyarakat tentunya akan mengurangi belanja, terutama untuk produk-produk tertentu yang mengalami kenaikan harga,”
Ajib menambahkan bahwa perlambatan konsumsi rumah tangga berisiko menahan laju pertumbuhan ekonomi, karena belanja masyarakat masih menyumbang lebih dari 50 persen terhadap PDB.
“Salah satunya, tidak melakukan ekspansi usaha, dan efisiensi,”
Menurutnya, pelaku usaha kini lebih memilih menunda ekspansi dan fokus pada efisiensi untuk menahan dampak kenaikan biaya produksi.
Penyebab: permintaan tinggi dan keterbatasan pasokan
Apindo menduga kenaikan harga dipengaruhi oleh faktor demand-pull, yaitu meningkatnya permintaan sementara pasokan relatif terbatas. Kondisi ini membuat tekanan harga pada beberapa komoditas pangan menjadi lebih besar.
Harga beras naik di seluruh rantai
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mencatat kenaikan harga beras pada semua tingkat, dari penggilingan hingga eceran. Data BPS menunjukkan kenaikan harga beras di penggilingan, grosir, dan eceran.
| Indikator | Nilai | Keterangan |
|---|---|---|
| Inflasi Mei 2026 (mtm) | 0,28% | Per bulan |
| Inflasi Mei 2026 (yoy) | 3,08% | Per tahun |
| Harga beras penggilingan | Rp13.765/kg | Naik dari Rp13.685/kg |
| Harga beras grosir | Rp14.574/kg | - |
| Harga beras eceran | Rp15.358/kg | - |
Impak dan langkah antisipasi
Pengusaha mengambil langkah antisipatif seperti menunda ekspansi dan menjalankan efisiensi biaya. Jika tekanan harga berlanjut, konsumsi domestik bisa melemah lebih jauh dan menahan pemulihan ekonomi.
Untuk data resmi lebih lengkap, lihat laman BPS.
Pemantauan harga komoditas dan kebijakan pasokan menjadi kunci untuk meredam inflasi dan menjaga daya beli menjelang sisa tahun 2026.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Produk Indonesia Dilirik Buyer Spanyol, Potensi Transaksi USD2,31 Juta
Atase Perdagangan RI di Madrid catat potensi transaksi USD2,31 juta dari business matching; buyer Spanyol mi...
ISF 2026 Perkuat Kolaborasi Global untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
ISF 2026 digelar 6-7 Oktober di Jakarta untuk memperkuat kolaborasi global dalam pembiayaan, teknologi, dan...
Konsistensi Pasokan Ayam Kunci Kelancaran Operasional Bisnis Kuliner
Konsistensi pasokan ayam — ukuran, potongan, kualitas, dan jadwal pengiriman — menjadi penentu efisiensi dan...
Geo Dipa: Potensi Panas Bumi Indonesia Baru 11% Tergarap
Geo Dipa: potensi panas bumi 24 GW, namun baru 11% (2,7 GW) tergarap; hambatan utama biaya tinggi, waktu pem...
BI: KLM Perkuat Pembiayaan Perumahan, Rp118 T Tersalurkan
BI menyatakan KLM mendukung pembiayaan perumahan; realisasi 1,32% setara Rp118 triliun disalurkan ke 111 ban...
DPR Soroti Usulan HIPMI Naikkan Plafon KUR Jadi Rp2 Miliar
DPR menyoroti usulan HIPMI naikkan plafon KUR menjadi Rp2 miliar untuk memperluas pembiayaan UMKM kelas mene...