Ratifikasi Perjanjian Dagang Dorong Daya Saing Indonesia
Anggota Komisi VI DPR Sarifah Suraidah Harum mendesak percepatan ratifikasi empat perjanjian dagang internasional untuk memperluas akses pasar ekspor Indonesia dan memperkuat posisi negara dalam perdagangan global. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Sabtu, 25 Juli 2026, dengan penekanan pada strategi implementasi agar manfaatnya dirasakan pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat luas.
Alasan dukungan dan target manfaat
Sarifah, anggota Fraksi Partai Golkar, menilai perjanjian dagang merupakan momentum strategis untuk meningkatkan daya saing produk nasional. Ia menyebut kerja sama dengan negara-negara ASEAN, Tiongkok, serta Eurasian Economic Union (EAEU) akan membuka pasar baru dan menarik investasi berkualitas.
Menurutnya, sektor manufaktur, pertanian, perikanan, perkebunan, hingga UMKM berpotensi meningkatkan ekspor, menambah devisa, dan menyerap tenaga kerja jika implementasi dijalankan tepat.
Fokus implementasi pasca-ratifikasi
Sarifah menekankan bahwa percepatan ratifikasi tidak cukup tanpa roadmap implementasi. Ia mendorong penyusunan langkah konkret yang melibatkan kementerian terkait, BUMN, pemerintah daerah, asosiasi usaha, dan pelaku industri.
"Kami berharap percepatan ratifikasi perjanjian perdagangan dengan negara-negara sahabat diikuti strategi implementasi yang terukur. Dengan demikian, manfaatnya benar-benar dirasakan dunia usaha, pelaku UMKM, dan masyarakat luas,"
Ia menambahkan keberhasilan perjanjian dagang diukur dari seberapa efektif implementasinya dalam meningkatkan ekspor, menarik investasi berkualitas, dan menciptakan lapangan kerja.
Langkah kebijakan yang diusulkan
Untuk memaksimalkan manfaat, Sarifah mengusulkan beberapa langkah prioritas. Pertama, penguatan fondasi industri melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi logistik. Kedua, penyederhanaan perizinan dan digitalisasi proses perdagangan untuk menurunkan biaya dan waktu ekspor.
Ketiga, akses pembiayaan lebih luas, sertifikasi produk, promosi ekspor yang agresif, serta pendampingan berkelanjutan bagi UMKM agar siap bersaing di pasar internasional.
Waspada persaingan impor dan perlindungan industri
Sarifah juga mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan persaingan produk impor di pasar domestik. Menurutnya, kebijakan yang melindungi sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional harus menjadi prioritas kebijakan
Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor agar semangat liberalisasi perdagangan tidak mengorbankan kapasitas produksi lokal dan lapangan kerja.
Prospek dan harapan
Sarifah optimistis bahwa ratifikasi yang diikuti implementasi terarah akan menjadi motor penggerak peningkatan ekspor, investasi, dan pertumbuhan industri nasional. Ia berharap kebijakan ini mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan mampu mensejahterakan masyarakat.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...