Inflasi Bekasi Terjaga Meski Harga Pokok Naik
Pemerintah Kabupaten Bekasi memastikan inflasi daerah tetap terkendali meski sejumlah komoditas pokok mengalami kenaikan harga. Pernyataan ini disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting, Helmi Yenti, Rabu, 17 Juni 2026. Pemkab menyebut tekanan berasal dari gangguan pasok dan biaya operasional, namun langkah antisipasi sudah dijalankan.
Data dan indikator harga
Berdasarkan pemantauan, Indeks Perkembangan Harga (IPH) pekan lalu tercatat 1,56 di Kabupaten Bekasi. Angka itu menempatkan Bekasi pada posisi kedelapan di Provinsi Jawa Barat. IPH tersebut masih di bawah ambang batas 1,58 yang menjadi indikator inflasi daerah terkendali.
Hasil pemantauan juga menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga. Kondisi ini menandakan fluktuasi harga belum berdampak signifikan pada kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan harian.
Komoditas yang mengalami kenaikan
Pemantauan di pasar-pasar rakyat mengidentifikasi kenaikan pada beberapa komoditas strategis. Kenaikan terjadi pada daging sapi dan sejumlah bahan hortikultura.
- Daging sapi
- Bawang merah
- Bawang putih
- Cabai merah keriting
- Cabai rawit merah
"Hasil pendataan menunjukkan daya beli masyarakat masih berada pada zona aman. Meskipun terdapat beberapa komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga," ujar Helmi Yenti.
Helmi menambahkan beberapa pasar tradisional melaporkan harga yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Pasar yang disebut antara lain Pasar Cikarang, Pasar Cibarusah, dan Pasar Serang.
Penyebab kenaikan dan langkah antisipasi
Menurut Helmi, kenaikan harga dipengaruhi dua faktor utama. Pertama, gangguan rantai pasok pada komoditas hortikultura. Kedua, meningkatnya biaya operasional sektor peternakan dan distribusi.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Bekasi memperkuat pasokan dari daerah lain. Salah satu upaya adalah mendatangkan pasokan cabai dari wilayah Sumatera untuk menutup kekurangan distribusi dari Jawa Barat.
"Pemerintah Kabupaten Bekasi akan terus melakukan pemantauan harga secara berkala serta berkoordinasi dengan berbagai pihak. Hal ini untuk memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga inflasi daerah tetap terkendali," tutup Helmi Yenti.
Dampak dan prospek
Meski beberapa komoditas menunjukkan kenaikan, data IPH dan survei daya beli menegaskan kondisi ekonomi lokal relatif stabil. Pemantauan berkala dan penguatan suplai diharapkan menekan volatilitas harga dalam beberapa pekan ke depan.
Pemerintah daerah tetap memantau dinamika pasar dan akan menyesuaikan intervensi bila tekanan harga berlanjut. Upaya koordinasi dengan pemasok regional menjadi kunci menjaga ketersediaan dan stabilitas harga.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemprov DKI, Bank Jakarta & Persija Perkuat Sport Tourism
Pemprov DKI, Bank Jakarta, dan Persija bersinergi untuk memperkuat sport tourism menjelang 500 tahun Jakarta...
Sao Tome Buka Jalur Paspor untuk Investor dengan Investasi $90.000
Sao Tome menawarkan paspor melalui investasi $90.000 ke National Transformation Fund, tanpa kewajiban meneta...
Jadwal Kapal Ferry Singkil–Pulau Banyak, Senin 10 Agustus 2026
KMP Aceh Hebat 3 layani rute Singkil–Pulau Banyak Senin 10 Agustus 2026; berangkat Singkil pukul 17.00 WIB,...
Jadwal Kapal Roro Sabang–Banda Aceh 10 Agustus 2026
PT ASDP Banda Aceh umumkan jadwal kapal Roro Sabang–Banda Aceh 10 Agustus 2026, termasuk jadwal KMP Aceh Heb...
Pelabuhan Kijing Berpeluang Jadi Pintu Ekspor Utama Kalbar
Pelabuhan Kijing di Mempawah berpotensi jadi pintu ekspor utama Kalbar berkat posisi strategis, infrastruktu...
Harga Ikan di Singkil Naik Tajam karena Pasokan Menipis
Pasokan ikan di Aceh Singkil menipis akibat cuaca ekstrem dan musim paceklik, memicu lonjakan harga hingga R...