Indonesia Perkuat Kerja Sama Industri dengan Tajikistan untuk Perluas Pasar
Indonesia memperkuat kerja sama industri dengan Tajikistan melalui pertemuan bilateral pada forum BRICS PartNIR 2026 di Xiamen, Tiongkok, untuk memperluas akses pasar manufaktur ke kawasan Eurasia dan CIS. Pertemuan itu berlangsung sebagai bagian dari rangkaian acara internasional dan melibatkan pembahasan nota kesepahaman serta peluang investasi bersama.
Pertemuan bilateral dan tujuan
Pertemuan bilateral diwakili oleh Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, dan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan, Aziz Nazar. Diskusi berfokus pada langkah konkret memperluas jejaring industri dan membuka akses pasar baru.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai kolaborasi lintas negara penting untuk mendorong inovasi dan investasi yang memberi nilai tambah. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat kerja sama industri antarnegara.
"Kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk memacu inovasi dan memperluas akses pasar. Kolaborasi tersebut juga menciptakan peluang investasi yang memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak,"
Agus menyampaikan pernyataan itu di Jakarta pada Minggu, 14 Juni 2026, menggarisbawahi momentum diplomasi ekonomi yang sedang dijalankan.
Nilai perdagangan dan sektor prioritas
Hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan meningkat dari USD 1,7 juta pada 2021 menjadi USD 1,9 juta pada 2025, dengan kontribusi dominan berasal dari sektor nonmigas.
Dalam pembicaraan, Indonesia dan Tajikistan mengidentifikasi beberapa sektor prioritas untuk kolaborasi. Sektor yang disorot meliputi pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi dan alat kesehatan, serta pengembangan ekosistem industri halal.
"Kami terus meningkatkan peluang terciptanya kemitraan yang saling menguntungkan melalui perluasan jejaring industri,"
kata Tri Supondy, yang juga menekankan pentingnya penyempurnaan ruang lingkup nota kesepahaman agar selaras dengan kebutuhan dan potensi kedua negara.
Promosi produk dan langkah ke depan
Selain penjajakan kerja sama, Indonesia memperkenalkan partisipasinya sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 di Ekaterinburg, Rusia. Partisipasi ini diharapkan memperkuat promosi produk manufaktur nasional dan membuka peluang kemitraan baru dengan pelaku industri global.
Langkah-langkah selanjutnya meliputi finalisasi ruang lingkup nota kesepahaman dan penjajakan proyek investasi yang konkret. Jika terealisasi, kerja sama ini berpotensi memperluas jangkauan ekspor Indonesia ke pasar CIS dan meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPR: Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari Realistis
Bambang Patijaya mengatakan target lifting minyak 610 ribu bph dan gas 950 ribu bph setara minyak pada RAPBN...
Tarif Rp8 KAI: 27.620 Tiket Diskon Terjual pada 17 Agustus
KAI memberlakukan tarif Rp8 untuk LRT Jabodebek dan sebagian Commuter Line pada 17 Agustus; 27.620 tiket dis...
Menkeu: Mekanisme Pembiayaan Mitigasi Bencana NTT Sudah Disiapkan
Pemerintah menyiapkan mekanisme pembiayaan untuk mitigasi dan penanganan gempa NTT, dengan dana BNPB sekitar...
LPDB Koperasi Salurkan Ratusan Paket Bansos untuk Lansia
LPDB Koperasi menyalurkan ratusan paket bantuan sosial dan kebutuhan kesehatan ke PSTW Budi Mulia 3 dalam ra...
Libur 17 Agustus, Penumpang Whoosh Capai 45.889 Orang
Penumpang Whoosh mencapai 45.889 selama libur HUT ke-81 RI (14–15 Agustus 2026), naik 15% dan puncak keberan...
PLN Siagakan Pengamanan Kelistrikan Berlapis untuk HUT ke-81
PLN menyiagakan pengamanan kelistrikan berlapis di Istana Jakarta pada HUT ke-81, lengkap dengan UPS, genset...