IHSG Berisiko Melemah, Rupiah Tembus Rp18.000 dan UU P2SK Jadi Sorotan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan masih berisiko melemah pada perdagangan hari ini setelah pada penutupan Kamis turun 1,70% ke level 5.839,79. Prediksi itu disampaikan Jumat, 5 Juni 2026, seiring tekanan dari rumor pasar domestik dan pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi IHSG dan perkiraan jangka pendek
Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG mulai menjauhi level terendah hariannya, namun pergerakan masih berfluktuasi dan condong melemah. IHSG diperkirakan akan menguji level support di rentang 5.700-5.800.
"Pelemahan IHSG berkurang dari level terendah hariannya, namun diprakirakan pergerakan IHSG masih akan fluktuatif cenderung melemah. IHSG akan menguji level support di rentang 5.700-5800,"
Tekanan pasar dan rupiah
Rumor yang beredar di pasar domestik menekan sentimen investor. Tim Phintraco menyebut ketidakpastian global memperburuk kepercayaan sehingga mendorong aksi jual di bursa.
Di sisi lain, pelemahan rupiah turut menambah tekanan. Nilai tukar yang menembus Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu faktor risiko bagi aliran modal dan valuasi perusahaan yang sensitif terhadap mata uang asing.
Dampak pengesahan UU P2SK dan rencana Danantara
Salah satu sentimen domestik penting adalah pengesahan RUU revisi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menjadi undang-undang. Revisi ini merupakan lanjutan reformasi besar sektor keuangan dan diharapkan memperkuat tata kelola pasar modal.
"UU ini antara lain memperkuat mandat OJK dan pengaturan pasar modal. Termasuk rencana demutualisasi BEI dan peningkatan integritas transaksi,"
Dengan penerapan UU tersebut, diharapkan likuiditas pasar meningkat seiring perluasan peran bank di pasar modal dan beragamnya instrumen pasar. UU P2SK juga mengatur penerbitan surat utang khusus oleh Danantara, seperti Patriot Bond dan Merah Putih Bond, untuk memperluas sumber pembiayaan jangka panjang proyek strategis.
"Danantara juga berencana akan menerbitkan surat utang global senilai USD5 miliar. Obligasi tersebut telah diberi peringkat Baa2 dengan outlook negatif oleh Moody's,"
Penerbitan ini diharapkan dapat memperdalam struktur modal nasional dan membiayai program pembangunan tanpa membebani APBN.
Sentimen global: minyak, obligasi, dan emas
Bursa global masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah, namun pada Kamis harga minyak turun sekitar 3%. Penurunan harga minyak dipicu laporan soal sikap Presiden AS terhadap eskalasi konflik, yang turut menurunkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level 4,47%.
Sementara itu, harga emas tercatat menguat sekitar 0,8% pada level USD4.466 per troi ons, terdorong pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Kesimpulannya, kombinasi tekanan domestik — berupa rumor pasar dan pelemahan rupiah — serta sentimen global membuat IHSG berpotensi tetap fluktuatif dan cenderung melemah. Investor perlu memperhatikan level support 5.700-5.800 dan perkembangan implementasi UU P2SK serta rencana penerbitan obligasi Danantara sebagai faktor yang dapat mengubah arah pasar dalam beberapa minggu ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...