IGCN: Bisnis Berkelanjutan Jadi Tuntutan Pasar Global
UN Global Compact Network Indonesia (IGCN)IGCN Annual Members Gathering 2026 di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026, menyusul meningkatnya tuntutan pasar global terhadap komitmen lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Perubahan paradigma bisnis
President IGCN Y.W. Junardy menegaskan bahwa perusahaan tidak lagi cukup mengejar profit semata. Keberlanjutan harus menjadi jalan mencapai keuntungan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
"Sekarang kita bukan lagi hanya berbicara soal profit, tetapi bagaimana menjalankan responsible business yang berkelanjutan,"
Prinsip dan dukungan IGCN
IGCN mendorong penerapan 10 Prinsip United Nations Global Compact, yang mencakup penghormatan hak asasi manusia, perlindungan tenaga kerja, pelestarian lingkungan, dan pemberantasan korupsi. Organisasi ini juga aktif mendukung pencapaian SDGs 2030 melalui program pelatihan dan pengembangan kapasitas.
Program prioritas
Salah satu program unggulan IGCN adalah pengembangan ekonomi biru melalui Ocean Centre. Program ini fokus pada keselamatan laut, pengelolaan ekosistem, dan penguatan industri rumput laut nasional.
"Indonesia saat ini merupakan salah satu eksportir rumput laut terbesar di dunia. Namun, tantangan yang dihadapi adalah meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk agar tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah,"
Selain ekonomi biru, IGCN menjalankan inisiatif pengembangan ekonomi sirkular, pengurangan emisi karbon, pemberdayaan perempuan, penguatan UMKM, dan pembangunan rantai pasok berkelanjutan.
Pendidikan dan kapasitas
Di bidang pendidikan, IGCN menjalankan IGCN Academy dan program KUPUKU Training. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas guru dari jenjang SD hingga SMA agar metode pengajaran lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
- Meningkatkan kemampuan berpikir kritis
- Mengasah kreativitas dan komunikasi
- Memperkuat kemampuan kolaborasi
Dampak tuntutan pasar global
Direktur Kelautan dan Perikanan Bappenas Mohammad Rahmat Mulianda menambahkan bahwa banyak perusahaan internasional kini mensyaratkan komitmen pengurangan emisi, perlindungan HAM, dan rantai pasok berkelanjutan bagi mitra bisnis mereka.
"IGCN menilai tuntutan pasar global turut mempercepat transformasi praktik bisnis berkelanjutan di Indonesia,"
Prospek dan kolaborasi
IGCN menekankan bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan faktor penting daya saing di pasar global. Melalui kolaborasi antar-pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi sipil, dan media, IGCN optimistis target Sustainable Development Goals 2030 dapat terus didorong dengan prinsip "No One Left Behind".
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...