IHSG Berpeluang Rebound Setelah Turun 245 Poin
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpotensi menguat pada pembukaan Senin, 8 Juni 2026, setelah anjlok 245 poin atau 4,2% ke level 5.594,77 pada penutupan akhir pekan. Tekanan datang dari aksi jual investor asing dan sentimen negatif domestik, namun analis melihat kemungkinan rebound jika indeks bertahan di level support.
Prediksi pergerakan dan level teknikal
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG akan menguji area support antara 5.450-5.500. Jika level itu bertahan, menurutnya ada peluang bagi indeks untuk berbalik menguat menuju zona resistansi.
"IHSG berpotensi tes di level support pada 5.450-5.500. Jika kuat di support tersebut, IHSG berpotensi untuk rebound atau berbalik menguat,"
Fanny menilai resistansi terdekat berada di rentang 5.680-5.800.
Perbandingan pandangan analis
| Tim Analis | Support | Resistansi |
|---|---|---|
| BNI Sekuritas (Fanny Suherman) | 5.450-5.500 | 5.680-5.800 |
| Phintraco Sekuritas | 5.400-5.500 | 5.700-5.800 |
Tekanan asing dan saham yang paling banyak dijual
Tekanan utama datang dari arus modal keluar asing. Pada Jumat, 5 Juni 2026, tercatat net sell asing sebesar Rp3,72 triliun, yang menambah beban pada IHSG.
Berikut saham yang paling banyak dijual asing pada penutupan tersebut:
- TPIA
- BBCA
- BMRI
- ANTM
- BBRI
Faktor risiko dan sentimen yang dipantau
Tim Analis Phintraco Sekuritas mengingatkan beberapa risiko yang dapat memperburuk tekanan pasar. Mereka menyebut pelemahan rupiah, spekulasi pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia secara darurat, serta rumor pergantian pejabat tinggi seperti Menteri Keuangan dan Gubernur BI.
"Hal-hal yang dapat berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di antaranya pelemahan rupiah,"
Phintraco juga menyorot kekhawatiran penurunan peringkat oleh S&P dan potensi flyout investor oleh MSCI yang dapat menempatkan Indonesia ke kategori Frontier Market. Selain itu, kebijakan pemerintah yang dipersepsi negatif ikut memberi tekanan.
Data ekonomi dan kondisi global
Pelaku pasar masih menunggu rilis data domestik yang dinilai penting, antara lain cadangan devisa Mei 2026, indeks keyakinan konsumen, dan data penjualan ritel April 2026. Data ini dapat memberi arah pada sentimen jangka pendek.
Secara global, bursa Asia dan pasar AS juga mengalami penurunan pada akhir pekan lalu, dipicu aksi jual saham teknologi. Phintraco mengingatkan pelaku pasar untuk memantau konflik AS-Iran yang dapat mendorong risiko inflasi dan memengaruhi prospek suku bunga.
"Investor global masih akan mencermati perkembangan konflik AS dan Iran," kata Tim Phintraco.
Pendeknya, IHSG berpeluang rebound bila mampu bertahan di dukungan 5.450-5.500. Namun, risiko eksternal dan aliran modal membuat pergerakan indeks berpotensi tetap volatil dalam beberapa hari mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Tren Hidup Sehat Dorong Bisnis Herbal, Pelaku Bidik Outlet Komunitas
Kesadaran hidup sehat mendorong peluang bisnis herbal; pelaku bidik outlet komunitas untuk edukasi dan perlu...
SID 2026: Sumut Ajak 10 Provinsi Perkuat Hilirisasi dan Pariwisata
Gubernur Sumut ajak 10 provinsi Sumatera bersinergi dalam hilirisasi dan pariwisata pada pembukaan SID 2026...
DEM Aceh Dorong Percepatan Pengembangan Blok Andaman
DEM Aceh gelar seminar nasional mendorong percepatan Blok Andaman, menekankan hilirisasi, kepastian investas...
Harga Emas Antam Naik, Grafik Kembali Hijau 25 Juli 2026
Harga emas Antam naik ke Rp2.612.000/gram pada 25 Juli 2026; buyback tercatat Rp2.352.000/gram dan PPh 22 di...
Pasar Diprakirakan Fluktuatif Pekan Depan Imbas Konflik Geopolitik
Analis perkirakan pasar global dan rupiah fluktuatif pekan depan akibat eskalasi konflik geopolitik, kebijak...
Airlangga Dukung Kemitraan Farmasi untuk Kurangi Impor Obat
Menko Airlangga mendukung joint venture PT Tempo CTTQ untuk kembangkan biofarmasi, targetkan obat onkologi,...