IHSG Menguat di Jeda Siang ke 6.217,88, Sentimen Geopolitik Mereda
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada jeda siang perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, ke level 6.217,88. Kenaikan ini tercatat sebesar 1,43 persen atau 87,689 poin, didorong oleh sentimen global yang lebih positif terkait perkembangan geopolitik.
Pergerakan IHSG pada Sesi Pertama
Dalam sesi pertama, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.230,5 dan terendah di 6.111,97. Penguatan di awal hari menandakan minat beli investor yang kembali muncul menjelang akhir pekan.
Selama perdagangan, mayoritas sektor menunjukkan penguatan sejalan dengan aliran modal ke saham-saham unggulan. Volume transaksi tetap menjadi pengamat utama pelaku pasar untuk menilai kesinambungan penguatan.
Sentimen Global yang Mendukung
Pendorong utama penguatan pasar regional dan domestik adalah meningkatnya optimisme terkait meredanya ketegangan di Timur Tengah. Pasar menanggapi positif laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata selama enam puluh hari, sehingga risiko gangguan pasokan energi dianggap menurun.
“Indeks IHSG dan Bursa regional Asia di dominasi menguat yang di dukung sentimen laporan Amerika Serikat (AS) dan Iran telah sepakat untuk gencatan senjata. Meskipun Presiden AS Donald Trump belum secara resmi menyetujui kesepakatan tersebut,”
Catatan tersebut disampaikan oleh tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas. Meredanya ketegangan memberikan perbaikan sentimen risiko global dan mendukung penguatan mayoritas indeks regional Asia.
Faktor Domestik dan Risiko Ke Depan
Dari dalam negeri, penguatan IHSG turut ditopang kenaikan saham emiten konglomerasi. Namun, pelaku pasar tetap mencermati tekanan pada nilai rupiah yang berpotensi membatasi aliran modal asing masuk.
Investor juga memperhatikan kemungkinan volatilitas menjelang implementasi rebalancing indeks MSCI. Proses rebalancing tersebut dapat menimbulkan arus keluar masuk saham tertentu sehingga berpotensi membatasi kelanjutan penguatan IHSG.
Secara keseluruhan, pasar menutup sesi pertama dengan optimisme terbatas. Pelaku pasar akan terus memantau kelanjutan negosiasi program nuklir Teheran dan realisasi kebijakan terkait Selat Hormuz, sekaligus memperhatikan data serta rilis korporasi yang bisa mengubah sentimen jangka pendek.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...