Rupiah Tertekan, Makin Mendekati Rp18.000 Setelah Data Inflasi AS
Rupiah kembali melemah pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, mendekati level Rp18.000 per dolar AS setelah rilis data inflasi dan ekonomi AS. Pada penutupan Rabu rupiah berada di Rp17.846 per dolar, lalu sempat menguat di pembukaan Jumat menjadi Rp17.836, sebelum melemah lagi ke Rp17.860 pada pukul 09.30 WIB.
Pergerakan Rupiah Hari Ini
Pergerakan nilai tukar tampak sangat dinamis setelah dua hari libur. Pembukaan pasar awal memberikan penguatan tipis, namun tekanan kembali muncul menjelang rilis data ekonomi AS. Analis memperkirakan fluktuasi masih akan berlanjut sepanjang hari.
Sentimen Pasar dan Pengaruh Geopolitik
Sentimen pasar dipengaruhi laporan soal kemungkinan gencatan senjata antara AS dan Iran. Menurut Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, sentimen tersebut sempat memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.
"Laporan ini membuat rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS,"
Namun, sentimen geopolitik hanya salah satu faktor. Data ekonomi AS yang dirilis segera setelahnya berpotensi membalikkan arah perdagangan.
Rilis Data Inflasi dan PDB AS
Rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) menunjukkan kenaikan pada April 2026. Indeks PCE utama naik menjadi 3,8%, sementara PCE inti meningkat menjadi 3,3%. Analis mencatat ini merupakan angka tertinggi untuk PCE inti sejak November 2023.
"Kenaikan inflasi PCE inti merupakan level tertinggi sejak November 2023. Sedangkan kenaikan inflasi PCE utama merupakan yang tertinggi sejak Mei 2023,"
Kenaikan inflasi tersebut masih jauh dari target 2% The Fed. Oleh karena itu, kemungkinan bank sentral AS tetap mempertahankan suku bunga tinggi tetap besar.
Selain inflasi, data Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS sedikit meningkat menjadi 1,6% secara tahunan pada kuartal I 2026, namun masih di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 2%.
Prospek Rupiah ke Depan
Analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS pada hari ini. Tekanan dari kenaikan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi oleh The Fed menjadi faktor utama yang menahan penguatan rupiah.
Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan data ekonomi lanjutan dari AS. Pelaku pasar disarankan memantau rilis data dan pernyataan kebijakan dari bank sentral secara intensif.
Berita Terkait
Lalamove Catat Pengiriman Jarak Jauh Tumbuh 47% Jan–Apr 2026
Lalamove Indonesia mencatat kenaikan pengiriman jarak jauh 47% Jan–Apr 2026; mayoritas rute 50–80 km dan pic...
Rupiah Tutup Pekan di Rp17.880, Melemah 0,20% terhadap Dolar
Rupiah ditutup melemah 0,20% ke Rp17.880 per dolar pada 29 Mei 2026 akibat data AS dan arus modal keluar.
Astra Perluas Rumah Layak Huni dan Luncurkan EcoBiz di Garut
Astra serahkan Rumah Layak Huni dan luncurkan EcoBiz Desa Sejahtera Astra di Garut, melibatkan 3.000 petani...
Pemprov DKI Gencarkan Panel Surya untuk Kurangi Ketergantungan BBM
Pemprov DKI mempercepat pemasangan PLTS atap di fasilitas publik untuk kurangi penggunaan BBM dan dukung tar...
IHSG Terkoreksi 0,05% ke 6.127 Jelang Akhir Pekan
IHSG ditutup melemah 0,05% ke 6.127,38 pada 29 Mei 2026, dipengaruhi sentimen AS-Iran dan pergerakan bursa g...
BI Jelaskan Penyebab Rupiah Melemah dan Langkah Stabilitas
BI jelaskan penyebab rupiah melemah pada akhir Mei 2026 dan langkah stabilisasi termasuk intervensi valas, p...