IHSG Melemah di Jeda Siang, Turun ke Level 5.434,30
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada jeda siang perdagangan Senin, 8 Juni 2026, turun 2,87% atau 160,459 poin ke level 5.434,30. Pergerakan ini didorong tekanan jual investor asing dan sentimen pasar regional serta global.
Pergerakan IHSG hingga jeda siang
IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 5.523,94 dan terendah di 5.346,33. Bursa dibuka melemah di awal sesi pada level 5.486,31, turun sekitar 108,45 poin atau 1,94%.
Analisis dan proyeksi analis
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan indeks akan menguji area support antara 5.450-5.500. Jika support tersebut mampu menahan, IHSG berpeluang kembali rebound.
"IHSG berpotensi tes di level support pada 5.450-5.500,"
Fanny menambahkan level resistansi yang perlu diperhatikan berada di rentang 5.680-5.800. Ia juga menyoroti keluarnya modal asing yang memberi tekanan pada pergerakan indeks.
Tekanan asing dan saham yang banyak dijual
Pelepasan oleh investor asing tercatat signifikan. Pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, terjadi arus keluar modal asing sekitar Rp3,72 triliun.
Saham-saham yang paling banyak dijual asing pada perdagangan tersebut antara lain:
- TPIA
- BBCA
- BMRI
- ANTM
- BBRI
Sentimen pasar dan risiko yang mempengaruhi
Tim analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak fluktuatif, dengan support di 5.400-5.500 dan resistansi di 5.700-5.800. Menurut mereka, beberapa faktor yang menekan pasar antara lain pelemahan nilai tukar rupiah dan spekulasi kebijakan di dalam negeri.
"Hal-hal yang dapat berpengaruh terhadap pergerakan IHSG di antaranya pelemahan rupiah,"
Phintraco juga menyinggung rumor terkait kemungkinan RDG darurat Bank Indonesia, serta isu pergantian pejabat kunci seperti Menteri Keuangan dan Gubernur BI. Mereka menilai kekhawatiran penurunan peringkat oleh S&P dan potensi penurunan status ke Frontier Market oleh MSCI turut memperburuk sentimen.
Data ekonomi dan prospek ke depan
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi seperti cadangan devisa Mei 2026, indeks keyakinan konsumen, dan penjualan ritel April 2026. Hasil data tersebut diperkirakan berpengaruh pada arah pasar dalam beberapa sesi mendatang.
Di luar negeri, bursa Asia dan pasar AS juga mengalami tekanan akhir pekan lalu, terutama dari aksi jual saham teknologi. Faktor geopolitik turut diperhatikan.
"Investor global masih akan mencermati perkembangan konflik AS dan Iran," kata Tim Phintraco.
Secara keseluruhan, IHSG berpeluang bergerak terbatas dan rentan volatil sampai muncul konfirmasi perbaikan sentimen atau aliran modal balik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Tren Hidup Sehat Dorong Bisnis Herbal, Pelaku Bidik Outlet Komunitas
Kesadaran hidup sehat mendorong peluang bisnis herbal; pelaku bidik outlet komunitas untuk edukasi dan perlu...
SID 2026: Sumut Ajak 10 Provinsi Perkuat Hilirisasi dan Pariwisata
Gubernur Sumut ajak 10 provinsi Sumatera bersinergi dalam hilirisasi dan pariwisata pada pembukaan SID 2026...
DEM Aceh Dorong Percepatan Pengembangan Blok Andaman
DEM Aceh gelar seminar nasional mendorong percepatan Blok Andaman, menekankan hilirisasi, kepastian investas...
Harga Emas Antam Naik, Grafik Kembali Hijau 25 Juli 2026
Harga emas Antam naik ke Rp2.612.000/gram pada 25 Juli 2026; buyback tercatat Rp2.352.000/gram dan PPh 22 di...
Pasar Diprakirakan Fluktuatif Pekan Depan Imbas Konflik Geopolitik
Analis perkirakan pasar global dan rupiah fluktuatif pekan depan akibat eskalasi konflik geopolitik, kebijak...
Airlangga Dukung Kemitraan Farmasi untuk Kurangi Impor Obat
Menko Airlangga mendukung joint venture PT Tempo CTTQ untuk kembangkan biofarmasi, targetkan obat onkologi,...