IHSG Anjlok 2,53% pada Penutupan Sesi I, Rupiah Tembus Rp18.000
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada jeda perdagangan sesi pertama, Jumat, 5 Juni 2026. Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG turun 147,62 poin atau 2,53 persen ke level 5.692,15, setelah sempat dibuka di 5.846,49 dan menyentuh tertinggi harian 5.860,67.
Pergerakan pasar siang ini
Pelemahan terjadi meski IHSG sempat bergerak di zona hijau pada awal perdagangan. Tekanan jual yang meningkat menjelang akhir sesi pertama membuat indeks berbalik arah dan memperpanjang tren penurunan sejak perdagangan sebelumnya.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Open | 5.846,49 |
| High | 5.860,67 |
| Close (Sesi I) | 5.692,15 |
| Perubahan | -147,62 poin (-2,53%) |
Faktor pendorong pelemahan
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebutkan beberapa faktor yang menekan pasar. Salah satunya adalah maraknya rumor di pasar domestik yang menurunkan kepercayaan investor. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi sorotan pelaku pasar.
"Pelemahan IHSG berkurang dari level terendah hariannya, namun diprakirakan pergerakan IHSG masih akan fluktuatif cenderung melemah. IHSG akan menguji level support di rentang 5.700-5800,"
"Rumor yang muncul di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi mempengaruhi kepercayaan para investor,"
Rupiah tercatat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang menambah tekanan terutama pada saham-saham dengan beban utang valas atau pendapatan domestik yang sensitif terhadap kurs.
Sentimen kebijakan: Revisi UU P2SK
Pelaku pasar juga mencermati pengesahan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Menurut Phintraco, regulasi ini memperkuat mandat Otoritas Jasa Keuangan dan pengaturan pasar modal, termasuk rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia serta langkah untuk meningkatkan integritas transaksi pasar.
- Penguatan mandat OJK dan pengaturan pasar modal
- Rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia
- Peningkatan integritas transaksi pasar
Proyeksi dan implikasi
Phintraco memperkirakan IHSG masih berpotensi fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada sesi-sesi berikutnya. Level support yang disebut adalah di rentang 5.700–5.800. Jika tekanan jual berlanjut dan rupiah belum stabil, sentimen negatif bisa memperdalam koreksi.
Investor disarankan memantau perkembangan nilai tukar, berita kebijakan domestik, dan data global yang dapat memengaruhi aliran modal. Kestabilan pasar ke depan akan sangat dipengaruhi oleh konfirmasi kebijakan dan sentimen eksternal.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Galaxy Watch Ultra2: Smartwatch Tangguh untuk Aktivitas Outdoor
Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan ketahanan ekstrem dan analitik kesehatan berbasis AI, cocok untuk pelari tr...
NSIG Perkuat Jejaring Global Dorong Investasi Berkelanjutan di Sulut
NSIG perkuat jejaring global untuk menarik investasi berkelanjutan ke Sulawesi Utara lewat riset, B2B, dan b...
Chery Avante Buka Diler di Magelang, Harga di Bawah Rp300 Juta
Chery Avante membuka diler di Magelang (24 Juli 2026); harga di bawah Rp300 juta dan layanan penjualan serta...
Anggota Oriflame: Lebih dari Sekadar Menjual Produk
Younita, anggota Oriflame sejak 2020, menyebut keanggotaan soal mencoba produk, harga member gratis, dan par...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 per Gram - 25 Juli 2026
Harga emas Antam naik Rp7.000 per gram jadi Rp2.612.000 (25 Juli 2026); buyback juga naik. Simak rincian har...
Komisi VI Apresiasi Kinerja Positif Pelindo Semester I 2026
Komisi VI DPR mengapresiasi capaian positif Pelindo Semester I 2026 setelah kunjungan kerja di Surabaya; Pel...