IHSG Catat 24 'All Time High' dan Kapitalisasi Rekor 2025
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat 24 kali all time high sepanjang 2025 dan sempat menembus level tertinggi 8.711. Pada 8 Desember 2025, kapitalisasi pasar tercatat mencapai rekor Rp16.004 triliun, menurut pernyataan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik pada Senin, 29 Juni 2026.
Kinerja pasar dan data transaksi
BEI melaporkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham pada 2025 sebesar Rp18,1 triliun. Produk non-saham mencatat transaksi harian rata-rata Rp7,6 triliun. Pasar obligasi melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) membukukan total volume transaksi Rp1.375 triliun.
Perdagangan karbon di Bursa Karbon (IDXCarbon) juga menunjukkan aktivitas, dengan nilai perdagangan tercatat Rp36,37 miliar.
"Sepanjang 2025, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp18,1 triliun," ujar Jeffrey Hendrik.
Penghimpunan dana dan IPO
Pada 2025, BEI mencatat 26 perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). Total kapitalisasi pasar yang diperoleh dari emisi baru itu mencapai sekitar Rp155,2 triliun.
Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO sebesar Rp18,1 triliun, naik 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials dan infrastruktur.
"Kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials atau bahan baku dan infrastruktur," kata Jeffrey.
Selain saham, penghimpunan melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) mencapai Rp217,4 triliun. Skema HMETD dan waran juga menyumbang Rp43,7 triliun.
Edukasi, digitalisasi, dan pertumbuhan investor
BEI mendorong pengembangan investor lewat edukasi dan digitalisasi. Sepanjang 2025, BEI menyelenggarakan lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi dan menambah jumlah Galeri Investasi menjadi 1.015 lokasi di seluruh Indonesia.
Pengguna aplikasi IDX Mobile meningkat menjadi 463 ribu. Langkah-langkah ini mendorong jumlah investor menjadi 20,3 juta, atau naik 37 persen dari tahun sebelumnya.
Upaya stabilisasi saat tekanan pasar
Pada paruh pertama 2025, BEI sempat menerapkan trading halt ketika IHSG tertekan hingga turun ke level 5.996 akibat faktor eksternal. Untuk memulihkan pasar, BEI dan OJK mengambil sejumlah langkah kebijakan.
Langkah yang diambil meliputi penyesuaian kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS, penyesuaian batas Auto-Rejection Bawah (ARB), dan penyempurnaan ketentuan trading halt. Tujuannya menjaga stabilitas dan meredam volatilitas berlebihan.
"Pencapaian ini semakin memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan yang komprehensif," kata Jeffrey.
Rekor kinerja dan langkah stabilisasi menunjukkan pasar modal Indonesia terus berkembang, meski menghadapi gejolak global. Ke depan, pelaku pasar akan melihat bagaimana kebijakan BEI dan OJK berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan serta memperkuat kepercayaan investor.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.