Rupiah Tutup Menguat 71 Poin, Pasar Tunggu Data Ekonomi
Rupiah ditutup menguat 71 poin atau 0,40 persen pada penutupan perdagangan Senin, 29 Juni 2026, menjadi Rp17.851 per dolar AS. Penguatan ini terjadi sementara pelaku pasar mengambil sikap wait and see menjelang rilis data ekonomi awal Juli yang dinilai krusial.
Penutupan pasar dan angka akhir
Merujuk pada data Bloomberg, rupiah menguat 0,40 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Sentimen berhati-hati dari investor menekan volatilitas sehingga mata uang domestik menunjukkan penguatan pada penutupan hari.
Sentimen: Data ekonomi dan kebijakan pemerintah
Pelaku pasar menunggu dua indikator utama yang akan dirilis awal Juli, yakni neraca perdagangan dan perkembangan inflasi. Analis menilai kedua data tersebut akan menentukan arah jangka pendek rupiah.
“Diantaranya data neraca perdagangan dan perkembangan inflasi,”
Selain itu, rencana restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga disambut positif pasar. Pemerintah berencana memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan untuk mengurangi beban anggaran dan meningkatkan efisiensi.
“Presiden Prabowo sebelumnya menyatakan akan memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi hanya sekitar 250 perusahaan. Pemangkasan jumlah BUMN ini bertujuan mengurangi beban anggaran yang besar, sekaligus meningkatkan efisiensi,” ujar Ibrahim.
Di samping itu, pemerintah juga akan menempatkan kembali dana yang ada di Bank Indonesia ke bank-bank milik negara (Himbara) sebesar sekitar Rp281 triliun. Pemerintah juga menyiapkan dana siaga senilai Rp100 triliun yang dapat ditempatkan ke perbankan untuk memperkuat likuiditas.
“Penempatan tersebut sebagai likuiditas untuk memperkuat kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat,”
Proyeksi, risiko, dan perbandingan regional
Manajer riset menyebut ada peluang penguatan rupiah secara bertahap pada semester II-2026. Namun, penguatan itu diperkirakan terbatas dan masih menghadapi beberapa risiko global dan domestik.
“Tapi secara umum, prospek rupiah ke depan masih berisiko mengalami tekanan atau cenderung melemah dalam jangka pendek,”
Faktor eksternal yang dipantau adalah kelanjutan perang AS–Iran dan sikap Federal Reserve terhadap kebijakan suku bunga. Sementara faktor domestik meliputi defisit neraca pembayaran, transaksi berjalan, sentimen fiskal, peringkat utang, serta kebijakan intervensi Bank Indonesia.
Pergerakan mata uang regional
Sejak Januari hingga Juni 2026, rupiah tercatat mengalami depresiasi yang relatif terbesar dibandingkan beberapa mata uang regional.
| Mata Uang | Pergerakan (Jan–Jun 2026) |
|---|---|
| Rupiah (IDR) | -7,0% |
| Ringgit Malaysia (MYR) | -0,7% |
| Peso Filipina (PHP) | -4,0% |
| Baht Thailand (THB) | -5,6% |
Investor akan terus mengawasi rilis neraca perdagangan dan data inflasi awal Juli. Hasil kedua indikator itu diperkirakan menjadi penentu utama sentimen pasar dan arah nilai tukar rupiah dalam beberapa pekan mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.