IHSG Melemah 0,97% ke 5.838 pada Penutupan Sesi I Senin
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah pada penutupan sesi I, Senin, turun 0,97% ke level 5.838,94 setelah sempat dibuka di zona hijau. Pelemahan ini terjadi di tengah volume dan nilai transaksi yang relatif terbatas serta meningkatnya kekhawatiran geopolitik.
Pergerakan pasar sesi I
Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG sempat menyentuh titik terendah di 5.834 dan tertinggi di 5.942,77. Aktivitas perdagangan terpantau lebih sepi dari biasanya, dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp 4 triliun dan volume perdagangan sekitar 7,5 miliar lembar saham.
Jumlah saham yang melemah mendominasi pasar, yakni 378 saham turun, 244 saham naik, dan 183 saham tidak bergerak.
Analisis teknikal dan sentimen
Tim Pilarmas Investindo memproyeksikan IHSG berpotensi melemah secara terbatas, dengan level support dan resistance di kisaran 5.735 - 6.080.
"Kami memperkirakan IHSG berpotensi melemah terbatas. Dengan support dan resistance di kisaran 5.735 - 6.080," kata tim Pilarmas Investindo.
Faktor risiko: geopolitik dan inflasi energi
Salah satu pendorong sentimen negatif adalah memburuknya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kabar serangan Iran ke fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain memicu kekhawatiran pasar yang lebih luas terkait stabilitas kawasan di sekitar Selat Hormuz.
Tim Pilarmas menilai potensi gangguan di Selat Hormuz bisa memperpanjang waktu pemulihan, karena salah satu dampaknya adalah gangguan aliran energi global. Kondisi ini menambah tekanan pada prospek inflasi, terutama karena sebelumnya harga energi di dalam negeri sudah meningkat.
Sentimen global dan agenda data minggu ini
Investor juga akan memantau data manufaktur China, angka inflasi zona Euro, serta pidato Gubernur The Fed, Kevin Warsh, yang diperkirakan menjadi katalis utama pergerakan rupiah, IHSG, pasar obligasi, dan harga komoditas sepanjang pekan ini.
Pekan ini menandai penutupan perdagangan bulan Juni. Hingga penutupan Jumat lalu, indeks S&P 500 turun sekitar 3% selama bulan ini, Nasdaq merosot lebih dari 6%, sementara Dow Jones masih mencatat kenaikan lebih dari 1%.
Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pelaku pasar cenderung berhati-hati menjelang rilis data ekonomi penting dan perkembangan geopolitik yang dapat mempengaruhi arah pasar pada sesi berikutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...