DPR Apresiasi Hilirisasi Tembaga MIND ID–Freeport di Gresik
Komisi XII DPR RI memberikan apresiasi terhadap upaya hilirisasi tembaga oleh Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) dan PT Freeport Indonesia melalui pembangunan smelter dan Precious Metal Refinery (PMR) di Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, Jawa Timur. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama pada 14 Juli 2026 sebagai respons atas investasi yang dinilai meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.
Rapat dan pernyataan DPR
Rapat Komisi XII DPR RI dihadiri perwakilan PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Internasional. Anggota Komisi XII, Arif Riyanto Uopdana, menyebut langkah pembangunan fasilitas hilirisasi sebagai terobosan penting untuk keberlanjutan usaha pertambangan nasional.
“Saya apresiasi karena telah terjadi kesepakatan investasi kembali sebesar 12 persen bersama pemerintah Indonesia. Ini menjadi terobosan baru terkait keberlanjutan usaha PT Freeport Indonesia,”
Anggota Komisi XII lainnya, Alfons Manibui, juga menilai manfaat Freeport luas, tidak hanya bagi penerimaan negara tetapi juga bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.
“Kami berterima kasih kepada PT Freeport atas kinerjanya yang terus memberikan manfaat bagi negara, pemerintah daerah, dan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan,”
Kapasitas fasilitas dan produk
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa smelter di KEK Gresik memiliki kapasitas pengolahan sebesar 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Dengan ekspansi PT Smelting tambahan sebesar 300 ribu ton, total tambahan kapasitas mencapai 2 juta ton.
Jika ditambah kapasitas PT Smelting sebelumnya sebesar 1 juta ton, maka total kapasitas pemurnian konsentrat tembaga Freeport di dalam negeri diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.
Produksi yang diharapkan meliputi sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun, serta produk logam mulia dari PMR seperti ±50 ton emas dan ±200 ton perak, termasuk logam bernilai tinggi lain seperti platinum dan paladium.
Dampak ekonomi dan tantangan operasional
Tony Wenas menilai fasilitas hilirisasi akan memberi kontribusi signifikan pada perekonomian nasional. Saat operasional tambang berjalan normal, penerimaan negara diperkirakan dapat melampaui Rp120 triliun per tahun.
Namun, Freeport pernah menghadapi kendala operasional, antara lain kebakaran di fasilitas Gas Cleaning Plant pada Oktober 2024 yang diperbaiki hingga Mei 2025. Selain itu, terjadi gangguan pasokan konsentrat akibat longsoran di Grasberg Block Cave yang memengaruhi ritme produksi.
Prospek ke depan
Parlemen menekankan pentingnya kesinambungan investasi dan pengelolaan lingkungan serta sosial. Perusahaan menyatakan terus memulihkan operasi agar kegiatan produksi dapat kembali optimal dan memberi nilai tambah lebih besar bagi negara, daerah, dan masyarakat setempat.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Mendag Perkuat Ekspor Industri Padat Karya
Mendag Budi Santoso mendorong peningkatan ekspor industri padat karya lewat sinergi dengan pelaku usaha dan...
Pemerintah Kawal Akses Asam Lemak ke Uni Eropa Pasca Putusan WTO
Pemerintah akan mengawal akses ekspor asam lemak ke Uni Eropa pasca putusan parsial Panel WTO DS622 dan meny...
Peron Baru Jalur 6-8 Stasiun Bogor Resmi Beroperasi
Peron Jalur 6-8 Stasiun Bogor selesai diperpanjang dan resmi dioperasikan pada 15 Juli 2026, meningkatkan ka...
Indonesia Matangkan Tata Kelola Bahan Kimia untuk Aksesi OECD
Indonesia mematangkan tata kelola bahan kimia untuk aksesi OECD, menyelaraskan kebijakan dan memperkuat peng...
Indonesia Jajaki PTA dengan Maroko Perkuat Ekspor Manufaktur
Indonesia menjajaki PTA dengan Maroko untuk memperluas pasar, amankan pasokan fosfat dan kembangkan industri...
Jakarta IP Market 2026 Perkuat Lisensi IP Menuju Pasar Global
JIPM 2026 di Fairmont Jakarta (29–30 Juli) berubah jadi platform B2B untuk mempercepat komersialisasi IP Ind...