Mei 2026: Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh 2,1%
Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai USD 444,4 miliar pada Mei 2026, atau setara Rp8.026,30 triliun (kurs Rp18.061/USD). Angka ini menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 2,1 persen, naik dari 2,0 persen pada April 2026, terutama dipicu kenaikan ULN publik.
Ringkasan angka dan pertumbuhan
Posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 sebesar USD 444,4 miliar. Dalam rupiah, nilai tersebut setara dengan Rp8.026,30 triliun menggunakan kurs Rp18.061 per dolar AS.
Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 29,9 persen, menunjukkan struktur utang yang masih terjaga. Selain itu, ULN jangka panjang mendominasi dengan porsi 83,9 persen dari total ULN.
Komposisi: publik versus swasta
Bank Indonesia melaporkan pertumbuhan ULN didorong oleh ULN publik, yang mencakup pemerintah dan bank sentral. ULN pemerintah pada Mei 2026 tercatat USD 217,3 miliar dan tumbuh 3,7 persen secara tahunan.
Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Pemerintah juga tetap memenuhi kewajiban pokok dan bunga utang tepat waktu meski ada beban pembayaran jatuh tempo.
Sementara itu, ULN swasta berada pada posisi USD 195,9 miliar dan masih mengalami kontraksi tahunan sebesar 0,1 persen, tetapi kontraksi ini melambat dibandingkan April (kontraksi 0,5 persen). Kontraksi terutama berasal dari kelompok peminjam lembaga keuangan yang turun 0,8 persen secara tahunan, membaik dari penurunan 5,0 persen pada April 2026.
Dampak, kebijakan, dan koordinasi
Bank Indonesia menilai struktur ULN tetap sehat karena proporsi utang jangka panjang yang tinggi dan pengelolaan yang menerapkan prinsip kehati-hatian. BI menegaskan akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah untuk memantau perkembangan ULN.
Menurut laporan BI, ULN akan dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya pengelolaan diarahkan untuk meminimalkan risiko yang bisa memengaruhi stabilitas perekonomian.
Prospek
Dengan dominasi ULN jangka panjang dan aliran masuk pada SBN internasional, BI menilai kondisi pendanaan eksternal masih mendukung pembiayaan pembangunan. Namun, pengawasan ketat terus diperlukan agar risiko fiskal dan eksternal terkelola seiring pemulihan ekonomi.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Pemerintah Kawal Akses Asam Lemak ke Uni Eropa Pasca Putusan WTO
Pemerintah akan mengawal akses ekspor asam lemak ke Uni Eropa pasca putusan parsial Panel WTO DS622 dan meny...
Peron Baru Jalur 6-8 Stasiun Bogor Resmi Beroperasi
Peron Jalur 6-8 Stasiun Bogor selesai diperpanjang dan resmi dioperasikan pada 15 Juli 2026, meningkatkan ka...
Indonesia Matangkan Tata Kelola Bahan Kimia untuk Aksesi OECD
Indonesia mematangkan tata kelola bahan kimia untuk aksesi OECD, menyelaraskan kebijakan dan memperkuat peng...
Indonesia Jajaki PTA dengan Maroko Perkuat Ekspor Manufaktur
Indonesia menjajaki PTA dengan Maroko untuk memperluas pasar, amankan pasokan fosfat dan kembangkan industri...
Jakarta IP Market 2026 Perkuat Lisensi IP Menuju Pasar Global
JIPM 2026 di Fairmont Jakarta (29–30 Juli) berubah jadi platform B2B untuk mempercepat komersialisasi IP Ind...
IHSG Menguat 28,31 Poin pada Penutupan Sesi I, Asing Catat Net Sell
IHSG menguat 28,31 poin pada jeda siang 15 Juli 2026 ke level 6.067,83; asing catat net sell Rp885,58 miliar...