Rupiah Ditutup Menguat di Rp18.068, Didorong Pelemahan Dolar
Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada Rabu, 15 Juli 2026, menjadi Rp18.068 per dolar AS atau naik sekitar 0,13 persen (23 poin). Penguatan ini didorong oleh melemahnya dolar AS setelah data inflasi Amerika Serikat melambat, sekaligus dipengaruhi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Pergerakan pasar dan sentimen geopolitik
Perdagangan hari ini masih dipengaruhi kekhawatiran atas serangan timbal balik antara AS dan Iran serta penutupan Selat Hormuz. Kondisi ini meningkatkan risiko pasar, namun dorongan dari data ekonomi AS menekan ekspektasi kenaikan suku bunga sehingga dolar melemah.
Kenaikan ketegangan AS-Iran dalam beberapa hari terakhir meningkatkan keraguan pasar akan perdamaian permanen. Apalagi perang sudah melebar ke negara-negara tetangga
Dampak data inflasi AS
Rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk Juni menunjukkan inflasi tahunan turun menjadi 3,5 persen dari 4,2 persen pada Mei, lebih rendah dari perkiraan 3,8 persen. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,6 persen dari 2,9 persen, di bawah ekspektasi 2,8 persen.
Angka inflasi di bulan Juni di bawah perkiraan perlambatan sebesar 3,8 persen. Perkembangan ini mengindikasikan kenaikan suku bunga agresif oleh the Fed saat ini tidak diperlukan
Ekspektasi suku bunga The Fed
Penurunan inflasi membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Menurut alat pasar derivatif, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun signifikan, sementara peluang kenaikan pada September juga menurun. Hal ini turut menekan dolar dan membuka ruang bagi penguatan rupiah.
Sehingga para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga the Fed. Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Juli turun menjadi 16 persen dari 40 persen
Faktor domestik: fiskal dan utang
Di dalam negeri, analis mencermati risiko pelebaran defisit APBN akibat kebutuhan pembiayaan yang meningkat. Outlook pemerintah memproyeksikan defisit APBN 2026 melebar menjadi Rp734,32 triliun dengan pembiayaan utang neto sekitar Rp868,12 triliun.
Pemerintah juga harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun pada tahun ini, sementara posisi utang per 31 Desember 2025 tercatat Rp9.638 triliun. Proyeksi menyebut posisi utang dapat meningkat menjadi sekitar Rp10.600 triliun pada akhir 2026.
Dengan tambahan pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah, nilai utang meningkat. Jumlahnya menjadi Rp 100 triliun, dan posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai Rp10.600 triliun
Utang luar negeri
Rilis Bank Indonesia mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 mencapai USD444,4 miliar, tumbuh 2,1 persen secara tahunan, sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan April yang 2,0 persen.
Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan ekspektasi kenaikan suku bunga di AS dan dinamika fiskal domestik menjadi penentu pergerakan rupiah ke depan, dengan risiko geopolitik tetap menjadi variabel yang perlu dipantau oleh pelaku pasar.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Mendag Perkuat Ekspor Industri Padat Karya
Mendag Budi Santoso mendorong peningkatan ekspor industri padat karya lewat sinergi dengan pelaku usaha dan...
Pemerintah Kawal Akses Asam Lemak ke Uni Eropa Pasca Putusan WTO
Pemerintah akan mengawal akses ekspor asam lemak ke Uni Eropa pasca putusan parsial Panel WTO DS622 dan meny...
Peron Baru Jalur 6-8 Stasiun Bogor Resmi Beroperasi
Peron Jalur 6-8 Stasiun Bogor selesai diperpanjang dan resmi dioperasikan pada 15 Juli 2026, meningkatkan ka...
Indonesia Matangkan Tata Kelola Bahan Kimia untuk Aksesi OECD
Indonesia mematangkan tata kelola bahan kimia untuk aksesi OECD, menyelaraskan kebijakan dan memperkuat peng...
Indonesia Jajaki PTA dengan Maroko Perkuat Ekspor Manufaktur
Indonesia menjajaki PTA dengan Maroko untuk memperluas pasar, amankan pasokan fosfat dan kembangkan industri...
Jakarta IP Market 2026 Perkuat Lisensi IP Menuju Pasar Global
JIPM 2026 di Fairmont Jakarta (29–30 Juli) berubah jadi platform B2B untuk mempercepat komersialisasi IP Ind...