DPR Dorong Hilirisasi Tembaga Kurangi Impor Bahan Amunisi
DPR RI mendorong percepatan hilirisasi tembaga untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan dan menekan ketergantungan impor bahan baku amunisi. Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Dorongan kebijakan untuk kemandirian
Menurut Dave, meski Indonesia memiliki sekitar 3% cadangan tembaga dunia, kebutuhan strategis industri pertahanan, termasuk bahan baku selongsong amunisi, masih bergantung pada impor. Ia menilai integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan penting untuk menjaga kedaulatan nasional.
"Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku. Namun, juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional,"
Data cadangan dan kinerja hilir
Data Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan Indonesia menempati peringkat ke-7 dunia untuk cadangan tembaga dan peringkat ke-11 untuk produksi. Namun kapasitas industri hilir tembaga nasional masih relatif rendah, berada pada posisi ke-18 dunia.
Catatan impor menunjukkan nilai impor tembaga dan turunannya tumbuh rata-rata 5,11% per tahun sepanjang 2021–2025. Secara kumulatif, nilainya mencapai sekitar USD 1,90 miliar dengan kenaikan 15,27%.
Upaya industri dan proyek hilirisasi
Langkah konkret mulai dilakukan oleh pelaku industri. MIND ID melalui PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan DEFEND ID dan PT Pindad untuk memproduksi brass cup—bahan baku utama selongsong amunisi—di Gresik.
Fasilitas di Gresik ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 10.000 ton per tahun, guna memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.
Selain itu, MIND ID merencanakan pengembangan fasilitas hilir berskala besar, antara lain:
- Produksi batang tembaga dan kawat tembaga berkapasitas 300.000 ton/tahun.
- Pabrik pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton/tahun, berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport.
Dampak dan prospek
Komisi I DPR menyatakan akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta. Fokusnya agar hilirisasi tembaga memberi nilai tambah pada industri pertahanan dan memperkuat kemandirian strategis Indonesia.
Jika rencana produksi dan integrasi industri berjalan sesuai target, impor bahan baku amunisi diharapkan menurun dan suplai komponen pertahanan dapat lebih andal di dalam negeri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Rempang Bisa Jadi Titik Balik Perbaikan Tata Kelola Investasi
Penyelesaian konflik Rempang dinilai sebagai momentum untuk menetapkan standar tata kelola investasi yang ad...
Kemenko Pangan-Bayer Perkuat Ketahanan lewat Benih Jagung Hibrida
Kemenko Pangan dan Bayer gelar panen raya di Ponorogo untuk memperkuat ketahanan pangan lewat inovasi benih...
Optimalisasi Kawasan Strategis Batam Kunci Perkuat Investasi
Puteri Komarudin dorong optimalisasi kawasan strategis Batam untuk memperkuat investasi Q1 2026, termasuk pe...
IHSG Ditutup Menguat ke 5.986, Target 6.000 Terbuka
IHSG ditutup menguat ke 5.986,5 pada 7 Juli 2026; peluang uji 6.000 terbuka meski likuiditas masih di bawah...
TOSTEM Studio Ciputat Resmi Dibuka di Tangerang Selatan
TOSTEM membuka Studio Ciputat di Tangerang Selatan untuk memudahkan akses produk pintu dan jendela aluminium...
Promo Whoosh Libur Sekolah: Diskon Rp200 Ribu & Cashback 50%
KCIC menghadirkan promo tiket Whoosh selama libur sekolah: diskon hingga Rp200.000 lewat Traveloka dan cashb...