Hiburan

Pemikat Jiwa: Horor Psikologis tentang Pelet Tayang 9 Juli

Bagikan:
Poster film Pemikat Jiwa, horor psikologis berlatar praktik pelet

Pemikat Jiwa, film horor Indonesia garapan Dom Dharmo, akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli 2026. Film ini mengangkat praktik pelet sebagai motor konflik dan mengeksplorasi sisi gelap obsesi cinta yang berujung pada teror.

Sinopsis singkat

Film mengikuti Jay, diperankan Fajar Nugra, yang menaruh hati pada Wulan (Givina). Ketika cintanya ditolak, Jay memilih menempuh jalan gaib dengan menggunakan pelet untuk memaksakan perasaannya.

Keputusan itu memicu rangkaian teror yang tidak hanya menimpa Wulan, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Karakter Wulan menjadi pusat perubahan hidup yang tak diinginkannya akibat pengaruh kekuatan gaib.

Tema dan nuansa horor

Selain unsur supranatural, film menonjolkan horor psikologis yang lahir dari obsesi, manipulasi, dan pelanggaran kehendak. Pendekatan ini membuat ketakutan muncul bukan hanya dari efek kejutan, tetapi juga dari dinamika antartokoh.

Dalam penayangan awal, salah satu penonton memberi kesan yang merangkum pesan film:

“Yang bikin serem bukan cuma peletnya, tapi karena masih ada orang yang percaya cinta bisa dipaksa.”

Kesan tersebut menegaskan bahwa ancaman terbesar film ini datang dari niat manusia yang mengabaikan batas dan kehendak orang lain.

Pemeran dan tim produksi

Selain Fajar Nugra dan Givina, Yuni Yasmin tampil sebagai Sasi Geni yang memperkuat nuansa horor sekaligus menunjukkan konsekuensi dari memilih jalan gelap. Pengembangan karakter dan konflik antartokoh menjadi fokus narasi film.

Film ini diproduseri oleh Shanker R.S., dengan Rama Tribudiman sebagai Executive Producer. Skenario ditulis oleh Nuugro Agung. Produksi dilakukan oleh Makara Production bekerja sama dengan NUSA Indonesia Bercerita, Jupiter, Salembe, AZ Film, dan SHOW Token.

Rilis dan konteks

Pemikat Jiwa dijadwalkan mulai menghantui layar bioskop Indonesia pada 9 Juli 2026. Film ini relevan karena mengangkat tema yang dekat dengan kepercayaan sebagian masyarakat, sambil mengajak penonton memikirkan konsekuensi etis dari obsesi dan paksaan dalam hubungan.

Dengan menggabungkan unsur mistis dan konflik psikologis, film berupaya memberi pengalaman horor yang lebih berdampak dan reflektif. Penonton diharapkan tidak hanya terkejut, tetapi juga merenungkan batas kebebasan dan kehendak antar-manusia.

Tiara Permata
Penulis
Tiara Permata

Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.

Berita Terkait