Harga Telur Anjlok, Legislator Desak Kemendag Gandeng BGN
Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar, Sarifah Suraidah Harum, mendesak Kementerian Perdagangan (Kemendag) segera berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap stok telur lokal. Pernyataan itu disampaikan Rabu, 27 Mei 2026, menyusul anjloknya harga telur akibat kelebihan pasokan dan serapan pasar yang lemah. Tujuannya menjaga kelangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas rantai pasok.
Data harga dan dampak pada peternak
Harga telur di tingkat peternak sempat jatuh ke level terendah awal bulan ini, yaitu Rp 20.400 per kilogram. Per 24 Mei 2026, harga bergerak di kisaran Rp 22.000 hingga Rp 22.800/kg, masih jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp 26.500/kg. Kondisi ini menekan pendapatan peternak kecil dan mengancam keberlangsungan UMKM perunggasan di daerah.
Seruan legislator: arahkan program MBG kepada stok lokal
Sarifah menilai masalah utama adalah tata niaga dan lemahnya serapan pasar, bukan produksi. Ia mendorong Kemendag dan BGN membuat skema yang memprioritaskan pembelian telur dari peternak lokal untuk program bantuan gizi.
"Turut prihatin, karena ini menyangkut kelangsungan UMKM yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga,"
"Dengan harga telur yang turun saat ini, maka dampaknya cukup signifikan bagi peternak. Harus ada langkah konkret untuk menyelamatkan usaha di tingkat peternak,"
"Kami meminta Kemendag segera berkoordinasi secara intensif dengan BGN untuk menghidupkan dan mengarahkan skema program MBG agar memprioritaskan stok dari peternak lokal,"
Respons Kementan dan langkah stabilisasi
Kementerian Pertanian menyatakan memahami tekanan pada peternak layer rakyat dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta asosiasi peternak. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menegaskan perlunya keterlibatan negara untuk menjaga usaha peternak.
"Kami memahami tekanan yang dirasakan peternak layer rakyat akibat fluktuasi harga telur. Negara harus hadir menjaga peternak rakyat,"
Pemerintah mendorong penguatan serapan pasar, distribusi antardaerah, dan hilirisasi produk peternakan untuk memperluas akses pasar dan menstabilkan harga.
Langkah yang disarankan
Untuk meredam tekanan, para pihak mengusulkan langkah konkret berikut:
- Koordinasi intensif antara Kemendag dan BGN untuk penyerapan stok melalui program publik.
- Pengaturan tata niaga dan skema distribusi yang menjamin keterjangkauan sekaligus menjaga harga di tingkat peternak.
- Penyusunan regulasi integratif yang melindungi rantai nilai perunggasan dari hulu hingga hilir.
- Percepatan hilirisasi produk peternakan untuk membuka pasar baru dan meningkatkan nilai tambah.
Implikasinya lebih luas: selain menjaga ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat, upaya ini juga penting untuk melindungi mata pencaharian jutaan peternak kecil. Semua pihak menunggu langkah nyata dari Kemendag dan BGN agar pasokan terserap dan harga kembali stabil.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...