Harga Sawit Turun, Pengamat Sebut Masalah Rantai Produksi
Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit turun di tingkat petani meski nilai tukar dolar AS menguat dan CPO global relatif stabil. Penurunan terjadi pada petani sejak awal Juni 2026 dan dinilai sebagai masalah distribusi margin dalam rantai produksi sawit nasional.
Penurunan harga di tingkat petani
Penurunan harga TBS tercatat saat rupiah melemah terhadap dolar. Secara teori, pelemahan rupiah seharusnya meningkatkan pendapatan dari ekspor. Namun kenyataannya penerimaan petani justru turun, sementara harga crude palm oil di pasar internasional relatif stabil.
Rantai produksi yang timpang
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, Rumayya, PhD, menyatakan masalah utama ada pada rantai produksi yang tidak seimbang antara petani dan industri. Petani menghadapi struktur pasar yang memberi mereka posisi tawar lemah.
Jadi di level petani itu yang harganya turun, padahal penerimaannya seharusnya meningkat. Penerimaan dari penjualan CPO-nya, nah ini memang masalah rantai produksi ya.
Ia menjelaskan petani sering berhadapan dengan sedikit pembeli berupa pabrik pengolah kelapa sawit. Kondisi ini membuat kemampuan petani untuk menentukan harga sangat terbatas.
Artinya banyak petani itu berhadapan dengan penjual yang sedikit yaitu PKS, pabrik lapas sawit, jadi daya tawarnya memang di petani ya. Mereka tidak punya kekuatan untuk membuat harga, tapi dari sisi pabriknya, nah tapi di ujungnya itu oligopoli.
Indikasi penahanan margin dan kebijakan
Selain struktur pasar, Rumayya melihat adanya indikasi penahanan margin di tingkat menengah rantai produksi. Menurutnya, ketidakpastian kebijakan mendorong pelaku industri menahan distribusi keuntungan kepada petani.
Ini sepertinya ada penahanan, penahanan margin di level di tengah ini. Nah itu perlu diinvestigasi, tapi salah satu indikasinya adalah karena adanya perubahan-perubahan kebijakan.
Temuan ini menunjuk pada perlunya investigasi kebijakan untuk memastikan margin tidak ditahan oleh aktor di tengah rantai pasok.
Dampak dan rekomendasi
Rumayya menilai faktor global seperti harga minyak nabati lain tidak terlalu memengaruhi posisi sawit, yang tetap kompetitif di pasar internasional. Namun keuntungan dari selisih kurs lebih banyak dinikmati eksportir, bukan petani.
Ia menekankan pentingnya memperkuat posisi tawar petani melalui kontrak yang sah dan kemitraan yang lebih transparan. Langkah ini dinilai perlu agar distribusi margin menjadi lebih adil dan pendapatan petani stabil.
Dengan kondisi saat ini, pemerintah dan regulator disarankan mengawasi struktur pasar dan kebijakan yang berdampak pada distribusi keuntungan. Investigasi lebih lanjut dianggap perlu untuk mencegah praktik yang merugikan petani sawit.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemensos Salurkan Bansos Rp390 Miliar untuk Warga Lampung
Kemensos menyalurkan bansos Rp390,27 miliar di Lampung pada 25 Juli 2026 untuk kebutuhan dasar dan pemberday...
Lemonilo Ajak Anak Indonesia Berani Bermimpi
Co-Founder Lemonilo mengajak anak Indonesia bermimpi tinggi dan memperkuat komitmen perusahaan untuk dukung...
Kemensos Salurkan Rp278 Juta untuk 420 Korban Kebakaran Sukabumi
Kemensos menyalurkan Rp278.415.408 bantuan logistik untuk 420 korban kebakaran di Kampung Adat Cipta Mulya,...
Beasiswa BPDDI 2026 Dibuka, Dosen Berkesempatan Kuliah S3 Gratis
Kemdiktisaintek membuka Beasiswa BPDDI 2026 untuk dosen perguruan tinggi, menyediakan dana hidup, transporta...
15 Siswa Sekolah Rakyat Tampil di JFC 2026 dengan Karya Daur Ulang
15 siswa Sekolah Rakyat Jember tampil di JFC 2026 (24–26 Juli) memamerkan kostum daur ulang dan mengasah kre...
Uskup Asia Puji Masjid Istiqlal sebagai Simbol Persaudaraan
Kardinal dan uskup FABC menutup Sidang Pleno ke-12 dengan mengunjungi Masjid Istiqlal, simbol persaudaraan l...