Nasional

Strategi Hadapi El Nino demi Swasembada Pangan

Bagikan:
Petani memeriksa lahan dan sistem irigasi untuk antisipasi El Nino

Pemerintah dan petani memperkuat strategi menghadapi El Nino untuk menjaga produksi pangan dan mempertahankan swasembada nasional. Upaya ini ditekankan pada pengelolaan air, modernisasi irigasi, dan diversifikasi komoditas sejak akhir musim hujan, Senin, 14 September 2026.

Ancaman El Nino terhadap produksi pangan

Penyuluh Pertanian Ahli Utama Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi, mengatakan El Nino menurunkan curah hujan signifikan dibandingkan rata-rata 25 tahun terakhir. Kondisi itu meningkatkan risiko kekeringan dan serangan hama, sehingga memengaruhi hasil panen jika tidak diantisipasi.

"Tantangan paling besar adalah masalah iklim ekstrem, seperti El Nino dan La Nina. Selain itu, ada serangan hama penyakit, nah masalah iklim ini tidak bisa diprediksi,"

Dedi menekankan bahwa kesiapan petani dan ketersediaan sumber air alternatif menjadi kunci agar tanaman tetap terpenuhi airnya selama musim kering.

Pengelolaan air: irigasi suplementer dan efisiensi

Salah satu langkah utama adalah pembangunan irigasi suplementer yang menyalurkan air langsung ke lahan tanpa kehilangan. Selain itu, penggunaan irigasi tetes dan sprinkle diarahkan untuk meminimalkan penguapan dan kehilangan air selama pengairan.

"Kita membangun irigasi suplementer, yaitu mengocorkan air dari sumber air ke lahan-lahan tanpa ada yang dibuang. Kemudian di lahannya sendiri itu kita memanfaatkan air secara efisien dengan menggunakan irigasi sprinkle,"

Pengelolaan lahan melalui pertanian konservasi juga dianjurkan. Penggunaan biochar, kompos, dan bahan organik membantu menahan air di dalam tanah, menyerap saat hujan, dan melepaskannya perlahan saat kemarau.

Dukungan pemerintah dan capaian produksi

Pemerintah mendukung petani lewat penyediaan benih, pupuk bersubsidi, pengembangan irigasi perpipaan, serta pendampingan penyuluh. Menurut Dedi, dukungan ini berkontribusi pada peningkatan produksi beras menjadi 34,7 juta ton sepanjang 2025.

Angka tersebut meningkat sekitar 13 persen atau hampir empat juta ton dibandingkan capaian sebelumnya. Peningkatan dinilai sebagai hasil dari langkah antisipasi yang memperkuat ketahanan menghadapi perubahan iklim.

Diversifikasi komoditas dan kesejahteraan petani

Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menggarisbawahi pentingnya diversifikasi komoditas sesuai potensi daerah. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ketersediaan pangan tetapi juga meningkatkan pendapatan petani.

"Ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya tidak sejahtera, ketahanan pangan tidak akan berkelanjutan,"

Iftitah menyebutkan pisang sebagai contoh komoditas dengan prospek ekspor dan pasar domestik yang terus meningkat. Pengembangannya dapat dilakukan di berbagai wilayah, termasuk kawasan transmigrasi.

Dengan kombinasi pengelolaan air, praktik konservasi, dukungan pemerintah, dan diversifikasi komoditas, pemerintah menargetkan ketahanan pangan yang lebih tangguh menghadapi fluktuasi iklim di masa mendatang.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait