Nasional

Gempa Dirasakan di Tiga Wilayah Bandung, Ahli Jelaskan

Bagikan:
Ilustrasi getaran gempa di Kabupaten Bandung dan wilayah Pangalengan

Rentetan gempa yang terjadi di selatan Kabupaten Bandung pada Kamis, 17 September 2026, terasa hingga Pangalengan, Talegong, dan Cisewu. BMKG mencatat peristiwa pada pukul 06.21.05 WIB berupa gempa berkekuatan Magnitudo 2,7 dengan kedalaman 4 kilometer, berpusat sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung, dan dirasakan pada intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI).

Rangkaian gempa: fenomena swarm

Pakar dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyatakan peristiwa ini termasuk aktivitas gempa swarm. Ia menjelaskan karakteristiknya dalam wawancara dengan Pro 3 RRI pada hari yang sama.

"Gempa swarm itu ketika kerentetan gempa terjadi terus menerus dalam suatu kawasan,"

Daryono menegaskan bahwa dalam swarm tidak terdapat satu gempa utama yang mendominasi rangkaian. Menurut pengamatan, gempa-gempa di selatan Bandung masih berintensitas kecil dan belum mencapai magnitudo empat.

Mengapa guncangan terasa relatif kuat?

Meskipun magnitudo tercatat kecil, gempa yang dangkal dapat menimbulkan guncangan yang terasa cukup kuat di permukaan. Hal ini terjadi karena energi seismik dilepaskan dekat permukaan sehingga dampaknya lebih terasa oleh warga.

"Magnitudo kecil tidak selalu identik dengan guncangan yang tidak terasa,"

Daryono menambahkan bahwa kondisi geologi lokal turut memperkuat getaran. Endapan tanah lunak di beberapa lokasi memicu resonansi sehingga guncangan terasa lebih besar dibandingkan lokasi dengan tanah padat.

"Guncangan-guncangan yang dirasakan masyarakat itu tidak hanya ditentukan oleh magnitudo dan jarak. Kondisi geologi lokal atau tanah lunak yang ada di daerah gempa itu juga ikut berperan membesarkan gempa itu, jadi, terjadi resonansi,"

Imbauan BMKG dan kondisi terkini

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dan mewaspadai kemungkinan gempa susulan. Hingga laporan terakhir, belum ada laporan kerusakan bangunan akibat serangkaian gempa ini.

Daryono mengingatkan agar warga tidak merespons dengan kepanikan, namun tetap memantau perkembangan kegempaan berdasarkan data resmi. Pemantauan berkelanjutan penting untuk mengetahui apakah rangkaian ini akan berlanjut atau mereda.

Dengan kondisi kedalaman yang dangkal dan faktor geologi lokal sebagai pemicu resonansi, pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk menjaga kewaspadaan sambil menunggu pembaruan informasi dari BMKG.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait