Nasional

Gempa Swarm di Selatan Bandung Didominasi Magnitudo 2-3

Bagikan:
Ilustrasi gempa di selatan Kabupaten Bandung dan peta Pangalengan Sesar Garut Selatan

Gempa bermagnitudo 2,7 mengguncang wilayah selatan Kabupaten Bandung pada Kamis, 17 September 2026. BMKG mencatat puluhan guncangan dirasakan sejak Rabu, dan aktivitas seismik itu diklasifikasikan sebagai swarm.

Detail gempa dan lokasi

Guncangan terjadi di kawasan selatan Bandung, khususnya sekitar Pangalengan. Data awal menunjukkan sebagian besar gempa berintensitas kecil, dengan magnitudo umumnya berkisar antara 2 hingga 3.

BMKG melaporkan banyak kejadian yang dirasakan masyarakat, namun belum ada laporan kerusakan signifikan terkait rangkaian gempa ini.

Penjelasan pakar

Pakar Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan bahwa rangkaian gempa tersebut termasuk kategori swarm. Ia menekankan sifat gempa ini berbeda dari kejadian dengan satu gempa utama yang diikuti oleh aftershock.

"Gempa swarm itu rangkaian gempa yang relatif kecil tanpa ada satu gempa utama dominan. Rata-rata magnitudonya hanya berada di 2, 3, atau 4," kata Daryono.

"Tapi yang terjadi di selatan Bandung ini belum sampai 4, ya. Hanya 3, saja kebanyakan," ujarnya.

Hubungan dengan sesar aktif

Daryono menyatakan letak kejadian ini lebih dekat ke zona Sesar Garut Selatan (Garsela) ketimbang Sesar Lembang. Menurutnya, gempa berkekuatan dua hingga tiga tidak cukup untuk memindahkan stress ke Sesar Lembang.

"Jadi, letaknya ini lebih kepada zona sesar Garut Selatan, di Pangalengan. Kekuatan Dua koma atau tiga koma itu tidak akan bisa memindahkan stress-nya ke Sesar Lembang," kata Daryono.

Imbauan dan pemantauan

Masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti informasi resmi. Daryono mengingatkan pemantauan harus dilakukan berdasarkan perkembangan keseluruhan, bukan semata jumlah kejadian.

"Bukan berdasarkan jumlahnya semata. Tapi betul-betul dipantau secara keseluruhan," ucapnya.

Prospek aktivitas seismik

Daryono menegaskan gempa swarm biasanya mereda secara bertahap. Meskipun frekuensi tinggi, tidak selalu berarti akan mengarah ke gempa yang jauh lebih besar.

"Gempa swarm ini memang kecil-kecil tapi frekuensinya banyak, tapi tidak selalu berarti mengarah pada gempa yang lebih besar," ujarnya.

Pemantauan oleh otoritas seismik dan pelaporan dari warga tetap penting untuk menilai perkembangan lebih lanjut dan menentukan langkah mitigasi yang diperlukan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait