Politik

FJTT 2026 Masuk KEN, Jaranan Trenggalek Dikenalkan ke Nasional

Bagikan:
Pertunjukan Jaranan Turangga Yaksa saat pembukaan FJTT Trenggalek 2026

Trenggalek — Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) ke-30 digelar sepekan hingga 29 September 2026 dan resmi masuk Kharisma Event Nusantara (KEN). Pengakuan itu menjadikan FJTT momentum penting untuk melestarikan dan mempromosikan seni jaranan kepada publik nasional. Pembukaan festival berlangsung pada Senin malam, 21 September 2026, dan menghadirkan peserta dari berbagai daerah.

Status KEN dan makna bagi Trenggalek

Kenaikan FJTT ke kalender KEN dinilai sebagai pencapaian budaya daerah. Status ini membuka akses promosi ke tingkat nasional serta memperbesar peluang kunjungan wisatawan. Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, menyebut pengakuan tersebut sebuah kebanggaan bagi seni daerah.

"Ini prestasi Trenggalek di bidang kesenian, khususnya jaranan. Sebagai wakil rakyat bakal terus mendorong dan mendukung agenda, apalagi sudah masuk KEN,"

Doding menambahkan, keberlanjutan FJTT selama tiga dekade menunjukkan jaranan masih mendapat tempat kuat di masyarakat. Ia juga menekankan bahwa festival ini menjadi sarana pertukaran kreativitas antarseniman daerah.

Peserta, kategori, dan penyebaran jaranan

Pentas FJTT 2026 menampilkan ragam gaya jaranan, termasuk Jaranan Turangga Yaksa yang menjadi identitas Trenggalek. Peserta tidak hanya berasal dari Jawa Timur, tetapi juga dari luar Pulau Jawa. Hal ini menegaskan posisi Trenggalek sebagai pusat pelestarian jaranan.

Kategori Jumlah Peserta
Turangga Yaksa Anak 17
Turangga Yaksa Remaja 17
SLTA dan Umum Turangga Yaksa 9
Non-Turangga Yaksa SLTA dan Umum 15

Dukungan politik dan harapan pelestarian

Pada pembukaan hadir juga anggota DPR RI Dapil VII Jawa Timur, Novita Hardini. Ia memuji posisi Jaranan Turangga Yaksa yang semakin dikenal dan mendapat tempat di kalangan masyarakat luas. Novita melihat festival sebagai bukti komitmen lokal mempertahankan tradisi di era digital.

"Jaranan Turangga Yaksa semakin melegenda dan merakyat. Semoga semakin lestari,"

Novita mengingatkan bahwa Trenggalek menyimpan beragam bentuk jaranan, seperti Senterewe dan Pegon. Dengan masuknya FJTT ke dalam KEN, peluang promosi dan kolaborasi antarwilayah diperkirakan meningkat.

Implikasi dan peluang ke depan

Masuknya FJTT ke KEN bukan sekadar label, melainkan peluang strategis untuk pengembangan pariwisata kebudayaan. Festival yang sudah tiga dekade berlangsung kini menjadi panggung nasional bagi pelaku seni jaranan. Ke depan, perhatian pada mutu pertunjukan, promosi, dan pelibatan generasi muda menjadi kunci kelangsungan tradisi ini.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait