Politik

Hasto Ajak Mahasiswa Teladani Soekarno Way di Blitar

Bagikan:

Blitar — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak mahasiswa meneladani Soekarno Way sebagai pedoman kepemimpinan yang berideologi dan berpihak pada rakyat kecil. Pernyataan itu disampaikan pada Talkshow Session Soekarno Way di Pendopo Ronggo Hadinegoro, Kabupaten Blitar, Sabtu, 7 November 2026. Acara bertema Lari Dalam Pikiran, Jalan Dalam Ideologi dihadiri ratusan mahasiswa dan elemen masyarakat.

Inti Pesan: Ideologi dan Kesetiaan pada Tujuan

Hasto menekankan bahwa pemimpin harus memiliki landasan ideologi serta kemampuan membangun organisasi. Menurutnya, kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan pribadi. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Ia menyebut Bung Karno memiliki apa yang disebut sebagai watak perwira tingkat lima, yakni pemimpin yang tetap setia pada tujuan perjuangannya meski menghadapi tekanan berat seperti penjarahan dan pengasingan.

Watak Perwira dan Keteguhan Bung Karno

Hasto memberi contoh perjalanan hidup Bung Karno sebagai bukti keteguhan. Penahanan di penjara, pengasingan di Bengkulu, dan pembuangan tidak memadamkan cita-citanya. Keteguhan tersebut, menurut Hasto, merupakan inti dari metode kepemimpinan yang harus diteladani generasi muda.

Yang pertama adalah punya ideologis, yang kedua adalah kepemimpinan yang membangun organisasi. Bung Karno saya sebut sebagai watak perwira tingkat 5, yaitu watak seorang pemimpin yang setia pada tujuan.

Soekarno Way sebagai Semangat Pembebasan

Hasto menegaskan bahwa kekuasaan seharusnya menjadi alat pembebasan, bukan instrumen penindasan. Cita-cita kemerdekaan menurutnya tidak berhenti setelah keluar dari penjajahan, tetapi berlanjut pada upaya menghapus ketidakadilan struktural yang menimpa rakyat.

Ia mencontohkan persoalan yang masih dihadapi petani, guru, pedagang, dan kelompok rentan lain sebagai bukti ketimpangan yang harus diatasi bersama.

Kemiskinan rakyat marhaen bukan akibat dia tidak mampu, bukan akibat dia bodoh. Kemiskinan rakyat marhaen terjadi akibat struktur kekuasaan yang menghisap.

Panggilan untuk Generasi Muda

Hasto mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengejar tujuan pribadi. Pemimpin masa depan harus membangun ikatan emosional dan imajinasi tentang nasib bangsa dan negara. Kepemimpinan, katanya, harus lahir dari kesadaran memperjuangkan kepentingan yang lebih besar.

Ia mengajak generasi muda untuk aktif melawan struktur yang mengekang melalui kerja kolektif dan gotong-royong. Nilai kemerdekaan yang diperjuangkan Bung Karno harus diwujudkan lewat keberpihakan kepada masyarakat miskin dan tertinggal.

Implikasi dan Arah Ke Depan

Pesan Hasto di Blitar menempatkan Soekarno Way sebagai kerangka kepemimpinan yang menekankan ideologi, organisasi, dan keberanian menghadapi risiko. Pesan ini juga memicu diskusi mengenai peran mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan sosial. Ke depan, tantangannya adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi kebijakan dan aksi konkret yang mereduksi ketimpangan struktural.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait