Ekspor Nikel dan Sawit Dorong Surplus Perdagangan Nonmigas
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan nonmigas senilai USD 16,31 miliar untuk periode Januari–Mei 2026. Surplus ini didorong oleh kenaikan ekspor komoditas pengolahan, terutama produk olahan nikel dan minyak kelapa sawit, demikian keterangan resmi BPS pada 1 Juli 2026.
Angka utama perdagangan Januari–Mei 2026
Menurut BPS, nilai ekspor nonmigas mencapai USD 110,19 miliar, sedangkan impor nonmigas sebesar USD 93,88 miliar. Secara tahunan, ekspor nonmigas tumbuh 3,89 persen dan kontribusinya terhadap total ekspor nasional meningkat menjadi 95,52 persen.
Kinerja sektor pengolahan
Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang utama surplus. Nilai ekspor sektor ini tercatat USD 94,62 miliar, naik 6,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Komoditas pengolahan yang menonjol antara lain nikel olahan, minyak kelapa sawit, dan produk kimia berbasis sumber daya alam.
Ekspor olahan nikel menunjukkan kenaikan paling pesat, mencapai USD 5,41 miliar atau tumbuh 61,06 persen year-on-year. Sementara itu, ekspor minyak kelapa sawit mencapai USD 11,50 miliar, naik 8,58 persen.
Produk kimia dasar juga mencatat pertumbuhan signifikan, termasuk kimia dasar organik berbasis pertanian sebesar USD 4,99 miliar (naik 21,39 persen) dan kimia dasar anorganik lainnya sebesar USD 1,38 miliar (naik 84,34 persen).
Komentar BPS
"Surplus neraca perdagangan nonmigas hingga Mei 2026 didorong oleh kinerja ekspor yang solid di berbagai sektor," ujar Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS, dalam keterangan resmi, Rabu 1 Juli 2026.
Negara tujuan dan komoditas impor utama
Dari sisi tujuan, Tiongkok tetap menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia. Berikut nilai ekspor ke beberapa mitra utama:
- Tiongkok: USD 28,54 miliar (tumbuh 17,68 persen)
- ASEAN: USD 22,13 miliar
- Amerika Serikat: USD 12,73 miliar
- Uni Eropa: USD 7,99 miliar
- India: USD 7,43 miliar
Sementara itu, impor nonmigas tercatat USD 93,88 miliar. Tiga komoditas impor terbesar adalah:
- Mesin dan peralatan mekanis: USD 16,16 miliar
- Mesin dan perlengkapan elektrik: USD 13,95 miliar
- Plastik dan barang dari plastik: USD 4,92 miliar
Ketiga kelompok barang tersebut menyumbang sekitar 37,31 persen dari total impor nonmigas.
Implikasi dan prospek
Data BPS menunjukkan kekuatan sektor pengolahan dalam menopang neraca perdagangan nonmigas. Kenaikan signifikan pada ekspor olahan nikel dan produk kimia mencerminkan naiknya nilai tambah ekspor.
Di sisi lain, tingginya impor mesin dan peralatan menandakan kebutuhan investasi dan kapasitas produksi untuk mendukung pertumbuhan industri pengolahan ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem: Hujan Lebat Ancama Sejumlah Kota
BMKG keluarkan peringatan cuaca ekstrem 2 Juli 2026; sejumlah kota diperkirakan hujan lebat akibat jalur kon...
BMKG: Risiko Gelombang Panas Ekstrem seperti Eropa Sangat Kecil
BMKG memastikan potensi gelombang panas ekstrem seperti Eropa sangat kecil di Indonesia karena iklim tropis...
Komisi VII Dorong Evaluasi KEK Super Prioritas agar Manfaat Merata
Komisi VII minta evaluasi KEK Super Prioritas agar manfaat investasi dan penyerapan tenaga kerja dirasakan m...
Prabowo Terima Lukashenko di Istana, Menandai 30 Tahun Hubungan RI-Belarus
Presiden Prabowo menerima kunjungan kenegaraan Presiden Lukashenko di Istana Merdeka, 2 Juli 2026, menandai...
Muhaimin: Pemerataan Ekonomi Kreatif Prioritas Pemerintah
Muhaimin minta ekonomi kreatif tak hanya di Jawa-Bali dan dorong pemanfaatan Sensus Ekonomi 2026 untuk pemet...
Pembangunan SMA Garuda Baru Konawe Selatan Dikebut
Kemdiktisaintek percepat pembangunan SMA Garuda Baru Konawe Selatan; progres 87,58% dan target penyelesaian...