Kemendag: Ekspor Kopi Olahan Indonesia Masih di Peringkat ke-19
Kementerian Perdaganganperingkat ke-19 dunia per Agustus 2026, meski negara ini dikenal sebagai penghasil biji kopi utama. Pernyataan itu disampaikan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi, pada Selasa, 11 Agustus 2026 di Jakarta, yang menyoroti rendahnya pangsa nilai tambah dari produk olahan kopi.
Data posisi dan pangsa pasar
Fajarini menjelaskan bahwa pangsa ekspor kopi olahan Indonesia di pasar global hanya sekitar 1,2 persen. Posisi ini jauh berbeda dengan peran Indonesia sebagai salah satu eksportir biji kopi terbesar dunia yang berada di jajaran lima besar.
"Kopi olahan kita peringkatnya masih rendah, padahal kita punya biji kopinya,"
Penyebab dan peluang penguatan industri
Menurut Fajarini, rendahnya ekspor produk turunan kopi berkaitan dengan kemampuan hilirisasi dan nilai tambah yang belum maksimal. Ia menilai kapasitas bahan baku sudah tersedia sehingga peluang untuk mendorong industri pengolahan masih besar.
"Menurut saya, ini masih bisa didorong lagi. Teman-teman pelaku kopi barangkali bisa melakukannya karena nilai tambahnya cukup besar di sini,"
Fajarini menambahkan bahwa daftar peringkat eksportir produk turunan kopi didominasi negara-negara Eropa. Tujuh negara teratas berasal dari Eropa, dan hanya satu pemain non-Eropa—Tiongkok—yang masuk 10 besar.
Target ekspor nasional dan kontribusi sektor F&B
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menyebut target ekspor nasional pada 2026 sebesar USD315 miliar, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekspor 5,3–6,9 persen sepanjang tahun ini. Ia juga menyampaikan capaian ekspor Juni 2026 tercatat USD25,4 miliar, naik 8 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
"Tentu di sini segmentasi pasar dan produknya berbeda-beda. Termasuk industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) itu sendiri,"
Implikasi dan langkah ke depan
Penguatan industri pengolahan kopi dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah dan pangsa pasar global Indonesia. Perlu kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan eksportir untuk memperbaiki rantai pasok, kualitas olahan, dan strategi pemasaran internasional.
Jika kapasitas pengolahan ditingkatkan, Indonesia berpotensi memperbaiki peringkat ekspor kopi olahan dan meningkatkan pendapatan dari komoditas strategis ini.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
760 Ribu WNA Gunakan Layanan KAI Group hingga Agustus 2026
Sebanyak 760.601 WNA menggunakan layanan KAI Group hingga Agustus 2026, termasuk 498.232 penumpang KA dan 26...
Wardah Buka Skin Longevity Clinic Pertama ParagonCorp di Asia Tenggara
Wardah meluncurkan Skin Longevity Clinic pertama ParagonCorp di Asia Tenggara (29 Sep–6 Okt 2026), menggabun...
Harga Emas Pegadaian: Galeri24 & UBS Turun Rp5.000
Galeri24 dan UBS di Pegadaian turun Rp5.000 per gram pada 3 Oktober 2026; cek daftar harga lengkap per ukura...
Ekspor Indonesia Agustus 2026 Tumbuh 6,72% menjadi USD26,61 Miliar
Ekspor Indonesia Agustus 2026 mencapai USD26,61 miliar, tumbuh 6,72% didorong manufaktur dan ekspor nonmigas...
Produk Indonesia Dilirik Buyer Spanyol, Potensi Transaksi USD2,31 Juta
Atase Perdagangan RI di Madrid catat potensi transaksi USD2,31 juta dari business matching; buyer Spanyol mi...
ISF 2026 Perkuat Kolaborasi Global untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
ISF 2026 digelar 6-7 Oktober di Jakarta untuk memperkuat kolaborasi global dalam pembiayaan, teknologi, dan...