Penataan BUMN Diproyeksikan Hemat Rp50 Triliun per Tahun
Pemerintah melalui holding Danantara tengah menata ulang struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meningkatkan efisiensi. Menurut Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, perampingan dari 1.077 entitas menjadi sekitar 200–300 perusahaan berpotensi menekan biaya hingga Rp50 triliun per tahun jika proses konsolidasi selesai.
Temuan dan sumber inefisiensi
Danantara menemukan praktik transaksi berlapis antar-entitas BUMN, dari induk ke anak hingga perusahaan cucu. Pola ini disebut menyebabkan pembengkakan biaya dan inefisiensi operasional yang signifikan.
Menurut Dony, nilai inefisiensi akibat layering transaction tersebut mencapai sekitar Rp30 triliun.
"Selama ini kita membiasakan layering transaction antara induk ke anak-anak, ke cucu-cucu, ke cicit, yang menyebabkan inefisiensi. Kurang lebih inefisiensinya itu Rp30 triliun,"
Contoh penggabungan dan penghematan
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penggabungan unit-unit bisnis yang berada dalam rantai usaha sama. Dony mencontohkan merger PT Pertamina Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping (PIS) karena ketiganya saling terkait dalam rantai bisnis yang sama.
Hasil konsolidasi ini, menurut Danantara, telah menghasilkan pemangkasan biaya transaksi internal dan pengurangan potensi kerugian akuntansi.
"Contoh pertama, kita merger sekarang, kita sudah menghemat kurang lebih sekitar USD600–700 juta dari hasil merger ini,"
Kasus lain: praktik serupa di Telkom Group
Praktik berlapis juga terdeteksi di lingkungan Telkom Group. Dalam pembangunan jaringan serat optik, pekerjaan pada beberapa proyek harus melewati beberapa lapis perusahaan sebelum dieksekusi, sehingga menimbulkan biaya tambahan yang tidak perlu.
Proyeksi penghematan dan implikasi
Dony menyatakan apabila proses streamlining selesai dan jumlah entitas berhasil dipangkas menjadi sekitar 254 perusahaan, Danantara memproyeksikan adanya penghematan langsung sekitar Rp50 triliun per tahun tanpa menghitung potensi kenaikan profitabilitas pasca-konsolidasi.
"Jadi kita punya Rp50 triliun kalau proses ini selesai kita laksanakan, kita punya immediate saving tanpa kita harus melakukan improvement terhadap kualitas pengelolaan dan profitability daripada hasil penggabungan. Di depan mata kita ada Rp50 triliun,"
Penataan ini berpotensi mengubah struktur biaya BUMN dalam jangka pendek. Ke depan, keberhasilan program bergantung pada eksekusi merger, penataan tata kelola antar-entitas, serta pengawasan untuk mencegah terulangnya praktik transaksi berlapis.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPR Percepat Penanganan Bencana di NTT
DPR bersama pemerintah mempercepat penanganan bencana di NTT, dengan kunjungan lapangan, penugasan anggota D...
BNPB Imbau Warga NTT Waspada Gempa Susulan
BNPB mengimbau warga terdampak gempa NTT waspada gempa susulan; BMKG catat 2.119 gempa susulan hingga 18 Agu...
BNPB Gelar Trauma Healing dan Perpustakaan Keliling untuk Pengungsi Sikka
BNPB menyediakan trauma healing dan perpustakaan keliling di GOR Samador, Sikka, untuk mendukung pemulihan p...
Indonesia Rawan Gempa dan Tsunami: Langkah Antisipasi Penting
Indonesia rawan gempa dan tsunami; warga diminta siaga dengan tas darurat, amankan perabot, dan pahami jalur...
Sejarah Lahirnya MPR RI: Dari KNIP hingga Perubahan Pasca-Reformasi
MPR bermula dari KNIP 1945; HUT diperingati 29 Agustus. Peran lembaga berubah setelah amendemen UUD 1945 pas...
BNPB Pastikan Kebutuhan Pengungsi Gempa Flores Tercukupi
BNPB pastikan kebutuhan pengungsi gempa magnitudo 7,7 di Manggarai terpenuhi; tenda, logistik, dapur umum, d...