Nasional

Menlu Sugiono Dorong EAS Perkuat Ketahanan Indo-Pasifik

Bagikan:
Menteri Luar Negeri Sugiono berbicara pada Pertemuan Menlu EAS ke-16 di Manila

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mendorong East Asia Summit (EAS) untuk menghasilkan kerja sama konkret demi memperkuat ketahanan kawasan Indo-Pasifik. Pernyataan itu disampaikan pada Pertemuan Tingkat Menteri EAS ke-16 di Manila, Filipina, Rabu, 23 Juli 2026, menyusul meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan gangguan jalur maritim strategis.

Dorongan konkret di tengah ketidakpastian global

Sugiono menekankan bahwa dialog antarnegara saja tidak cukup. Menurutnya, forum seperti EAS harus mampu menerjemahkan percakapan menjadi tindakan yang meningkatkan stabilitas dan ketahanan kawasan.

"Selama dua dekade, EAS telah menjaga ruang dialog tetap terbuka antara ASEAN dan negara-negara besar. Namun, dialog saja tidak cukup. Dialog harus membangun kepercayaan, kepercayaan harus menghasilkan kerja sama, dan kerja sama harus memperkuat ketahanan," kata Sugiono.

Ia menunjuk contoh dampak konflik global yang kini langsung memengaruhi kawasan, termasuk gangguan di jalur maritim strategis seperti Selat Hormuz, yang berdampak pada perekonomian global dan keamanan pasokan energi.

Penegasan pada hukum internasional

Sugiono menegaskan EAS harus berpegang pada aturan hukum internasional. Ia menyebut penerapan norma secara seragam penting untuk melindungi kepentingan semua pihak.

"Aturan yang diterapkan secara selektif pada akhirnya tidak akan melindungi siapa pun," ujarnya.

Ia secara spesifik mendorong penghormatan pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNCLOS 1982, dan Treaty of Amity and Cooperation (TAC) sebagai dasar kerja sama yang adil dan dapat diprediksi.

Isu Palestina dan agenda kemanusiaan

Dalam pertemuan, Indonesia kembali menyoroti situasi di Timur Tengah, khususnya Palestina. Sugiono menyerukan gencatan senjata berkelanjutan, akses kemanusiaan tanpa hambatan, serta jalan menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan, termasuk penghormatan atas hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Palestina.

Prioritas kerja sama kawasan

Indonesia juga mengusulkan agar EAS memperkuat fokus pada kerja sama yang bersifat nyata, seperti ketahanan energi dan pangan, kerja sama maritim, serta penanggulangan kejahatan lintas negara. Sugiono menekankan perlunya EAS relevan, responsif, dan efektif.

"Masa depan Indo-Pasifik tidak akan ditentukan oleh rivalitas, tetapi oleh kemampuan kita untuk bekerja sama. EAS harus tetap bersatu dalam tujuan, teguh pada prinsip, dan efektif dalam tindakan," ujar Sugiono.

Tentang EAS dan hasil pertemuan

East Asia Summit adalah forum tingkat pemimpin yang dibentuk pada 2005 dan kini beranggotakan 19 negara: 11 anggota ASEAN serta delapan mitra dialog. Mitra dialog tersebut antara lain:

  • Australia
  • Republik Rakyat Tiongkok
  • India
  • Jepang
  • Republik Korea
  • Selandia Baru
  • Rusia
  • Amerika Serikat

Pertemuan Menteri EAS ke-16 yang digelar bersamaan dengan rangkaian Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN dan Post Ministerial Conferences (AMM/PMC) ke-59 menghasilkan Chair's Statement yang menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, sentralitas ASEAN, serta penguatan kerja sama untuk menjaga perdamaian, stabilitas, dan ketahanan kawasan.

Imbas pertemuan ini dapat menentukan arah kerja sama regional ke depan, terutama terkait langkah-langkah konkret untuk meningkatkan ketahanan energi, pangan, dan keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait