DT Anggota DPRD Sumut Mangkir Pemanggilan Kedua Polda Sumut
MEDAN — Anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) dari Fraksi Partai Golkar, DT (Dhody Thahir), kembali mangkir saat dipanggil penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut pada Senin, 14 September. DT sudah berstatus tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan dokumen atau surat tanah yang sedang ditangani Polda Sumut.
Penetapan tersangka dan dasar laporan
Penetapan DT sebagai tersangka tercantum dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Ditreskrimum Polda Sumut Nomor: B/SP2HP/1969/VIII/Res.1.9/2026/Ditreskrimum tertanggal 18 Agustus 2026. Ia dijerat dengan pasal Pasal 266 subsider Pasal 263 KUHP terkait dugaan pemalsuan dokumen negara.
Kasus berawal dari laporan Direktur PT Rapy Ray Putratama, Muhammad Ghazali Lubis, terdaftar dalam surat laporan polisi Nomor: LP/B/449/IV/2023/SPKT/Polda Sumut.
Kronologi pemanggilan
Penyidik pertama kali melayangkan panggilan pada Kamis, 27 Agustus sekitar pukul 10.00 WIB. Namun DT tidak hadir tanpa keterangan yang jelas. Polda Sumut kemudian mengirim panggilan kedua pada Senin, 14 September, tetapi DT kembali tak memenuhi panggilan.
Alih-alih datang, DT mengutus kuasa hukumnya. Kuasa hukum itu hanya menyerahkan surat kepada penyidik tanpa menyampaikan kejelasan materi maupun jaminan kehadiran berikutnya.
Respons Polda Sumut
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan, membenarkan pemanggilan kedua terhadap Dhody Thahir dan menyatakan DT tidak hadir dengan alasan sedang menjalankan tugas dari Ketua DPRD Sumut.
"Tadi cuma pengacaranya saja yang datang, tetapi hanya mengantar surat,"
Ferry menegaskan bahwa aturan pemanggilan penyidik bersifat terbatas. Jika tersangka tidak kooperatif setelah dua kali panggilan, penyidik berpeluang menempuh langkah lebih tegas, termasuk penjemputan paksa.
Dampak dan harapan publik
Ketidakhadiran dua kali ini menimbulkan keprihatinan publik terkait persepsi adanya upaya menghindari proses hukum. Banyak pihak kini menanti sikap tegas kepolisian agar tidak terjadi perlakuan istimewa terhadap pejabat terpilih dan agar proses hukum berjalan sebagaimana terhadap tersangka lain.
Proses penyidikan akan berlanjut sesuai prosedur hukum yang berlaku, dan langkah selanjutnya bergantung pada keputusan penyidik setelah memperhitungkan sikap kooperatif pihak terkait.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Koperasi Desak Eksekusi Putusan MA atas Lahan Eks PT Torganda
Koperasi mendesak eksekusi dua putusan MA atas 47.000 ha lahan eks PT Torganda; menuntut kepastian hak dan p...
Polrestabes Medan Gerebek Rumah di Jalan Jermal, Dua Orang Diamankan
Tim gabungan Polrestabes Medan menggerebek rumah di Jalan Jermal pada 30/10; ditemukan barang bukti narkoba...
Pengadilan Agama Stabat Naik Jadi Kelas IA, PIRSM Diluncurkan
Plt. Bupati Langkat apresiasi kenaikan Pengadilan Agama Stabat ke Kelas IA dan peluncuran aplikasi PIRSM unt...
Dekranasda Sabang Dorong Produk IKM Kakao dan Kemasan
Ketua Dekranasda Sabang kunjungi Sentra IKM Kakao dan Rumah Kemasan di Sabang Fair untuk dorong promosi, kem...
Banda Aceh Serahkan Kursi Roda untuk Tiga Warga Lueng Bata
Wakil Wali Kota Banda Aceh menyalurkan tiga kursi roda untuk warga Kecamatan Lueng Bata yang lumpuh atau str...
Labuhanbatu Perkuat Pengawasan Pengadaan lewat MCSP-RBS KPK 2026
Pemkab Labuhanbatu menggelar evaluasi MCSP-RBS KPK 2026 untuk memperketat pengawasan pengadaan barang dan ja...