DPRD Jatim Minta Kajian Matang Sebelum Hentikan Impor BBM
SURABAYA — Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur Fuad Benardi mendesak pemerintah pusat mengkaji secara matang rencana penghentian impor bahan bakar minyak (BBM). Desakan itu muncul menyusul kelangkaan pasokan yang terjadi di sejumlah SPBU di Surabaya pada akhir Juni 2026.
Kelangkaan BBM di Surabaya
Fuad menerima laporan lebih dari 10 SPBU di Surabaya sempat tidak melayani penjualan Pertalite karena kehabisan stok. Kondisi ini, menurutnya, harus segera ditangani agar tidak memicu keresahan publik dan gangguan aktivitas ekonomi.
Kekhawatiran soal penghentian impor
Menurut Fuad, rencana penghentian impor BBM hanya bisa dilakukan jika ada kepastian sumber pasokan pengganti. Ia menilai produksi minyak nasional melalui lifting saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi BBM di dalam negeri.
Kalau memang tidak impor lagi, lalu kebutuhan BBM nasional akan dipenuhi dari mana? Setahu saya, produksi dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan Indonesia.
Ia memperingatkan bahwa kebijakan yang dipaksakan tanpa kesiapan pasokan berpotensi menimbulkan masalah serius. BBM menjadi kebutuhan dasar yang menopang mobilitas warga, distribusi barang, dan aktivitas ekonomi harian.
Kalau pasokannya tidak terjamin tetapi dipaksakan demi swasembada BBM, ini bisa menjadi blunder yang sangat fatal.
B50 sebagai alternatif harus dikaji
Fuad juga menyoroti rencana pemanfaatan B50 sebagai alternatif pengganti BBM fosil. Ia menegaskan implementasi perlu didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif, termasuk kecocokan spesifikasi bahan bakar dengan kendaraan yang beroperasi di Indonesia.
Harus diperjelas dan dikaji secara serius apakah B50 sudah sesuai dengan spesifikasi kendaraan yang ada di Indonesia atau belum.
Tindak lanjut DPRD
Sebagai langkah pengawasan, Komisi C DPRD Jawa Timur akan memanggil Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus untuk meminta penjelasan terkait penyebab kelangkaan dan rencana normalisasi distribusi.
Kami akan memastikan penyebab kelangkaan ini seperti apa dan solusi ke depannya bagaimana. Jangan sampai masyarakat terus mengalami kesulitan mendapatkan BBM.
Fuad menegaskan fungsi pengawasan DPRD penting untuk menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat dan mencegah kebijakan yang berdampak negatif pada pelayanan publik dan aktivitas ekonomi.
Catatan: DPRD menuntut adanya data dan rencana transisi pasokan yang jelas sebelum pemerintah menghentikan impor BBM, serta uji kelayakan teknis untuk setiap alternatif seperti B50.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
DPR Minta Pengusutan Tuntas Kekerasan Ibu terhadap Anak di Pamekasan
DPR minta polisi mengusut tuntas kasus kekerasan ibu terhadap anak di Pademawu, Pamekasan, termasuk pemeriks...
PDI Perjuangan: Perubahan APBD Sumenep Harus Pro Rakyat
Fraksi PDI Perjuangan minta Perubahan APBD Sumenep 2026 tetap berpihak pada rakyat meski PAD naik dan belanj...
Surabaya Minta Perlindungan untuk Pedagang Pasar Tradisional
DPRD Surabaya dan APPSI minta pemerintah lindungi pedagang pasar tradisional dari tekanan pasar modern, dari...
DPRD Jember Minta Pangkas Anggaran Rp2,8 Miliar untuk Stiker Bantuan
DPRD Jember minta Pemkab memangkas anggaran Rp2,8 miliar untuk stiker bantuan dan mengusulkan satu jenis sti...
Jaranan Hiasi Peringatan Kemerdekaan di Trenggalek
Ribuan warga menyaksikan pagelaran jaranan di halaman DPC PDI Perjuangan Trenggalek, 17 Agustus 2026, sebaga...
ASN Banyuwangi Berbagi daftarkan 1.144 pekerja informal ke BPJS
ASN Banyuwangi Berbagi mendaftarkan 1.144 pekerja informal ke BPJS Ketenagakerjaan pada 17 Agustus 2026 untu...