Ekonomi

Indonesia Perkuat Diplomasi Industri lewat Bioenergi Sawit

Bagikan:
Delegasi Indonesia di Forum INNOPROM 2026 membahas bioenergi kelapa sawit

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmitabioenergi kelapa sawit pada Forum Bisnis INNOPROM 2026, Senin 13 Juli 2026. Partisipasi ini membuka akses pasar dan peluang investasi dengan Rusia serta kawasan Eurasia, sejalan dengan upaya hilirisasi dan inovasi untuk ketahanan energi berkelanjutan.

Diplomasi industri dan tujuan partisipasi

Delegasi Indonesia hadir untuk memperluas kerja sama investasi, perdagangan, dan transfer teknologi. Forum bisnis itu diikuti lebih dari 100 pemimpin industri, pejabat pemerintah, pelaku usaha, dan pengunjung. Langkah ini bertujuan mendorong posisi Indonesia sebagai pemain utama bioenergi bersama Rusia dan kawasan Eurasia.

Menurut Menperin, pengembangan sawit tidak hanya berorientasi ekspor. Industri ini juga diarahkan sebagai penggerak ekonomi nasional dan solusi ketahanan energi.

"Kami ingin menjadikan industri sawit sebagai penggerak ekonomi nasional. Industri sawit juga menjadi bagian dari solusi menuju ketahanan energi dan pembangunan industri yang berkelanjutan." — Agus Gumiwang Kartasasmita

Mandatori biodiesel B50

Indonesia memperkenalkan penerapan mandatori B50 yang mulai berlaku pada Juli 2026. Kebijakan ini mewajibkan penggunaan bahan bakar diesel yang mengandung 50% biodiesel berbahan baku minyak sawit. Tujuannya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dan menekan emisi karbon.

Penerapan B50 juga diharapkan memperkuat industri hilir sawit dan memperluas penggunaan produk domestik di sektor energi.

Dukungan pendanaan dan keberlanjutan

Pemerintah menegaskan komitmen pada keberlanjutan industri sawit melalui program peremajaan kebun, pengembangan sumber daya manusia, dan riset teknologi biodiesel. Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil juga terus diperkuat untuk mendongkrak daya saing di pasar internasional.

"Kita tunjukkan bahwa Indonesia sudah menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, serta terus berinovasi melalui produk-produk unggulan." — Tri Supondy, Dirjen KPAII

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyatakan dukungan pendanaan untuk program dari hulu hingga hilir. Pendanaan diarahkan untuk peremajaan kebun rakyat, pengembangan SDM, riset, inovasi, serta sarana dan prasarana perkebunan.

"Mulai peremajaan kebun rakyat, pengembangan sumber daya manusia, serta riset dan inovasi. Kami juga mendukung pembangunan sarana dan prasarana perkebunan untuk memperkuat daya saing industri sawit dari hulu hingga hilir." — Pangihutan Siagian, Direktur BPDPKS

Peluang kerja sama dengan Rusia dan kawasan Eurasia

Forum bisnis membuka peluang penyelesaian perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan EAEU. Kerja sama bioenergi menjadi pintu untuk memperkuat investasi, transfer teknologi, dan akses pasar produk manufaktur nasional di kawasan Eurasia.

Kombinasi kebijakan domestik dan diplomasi industri diharapkan meningkatkan peran sawit dalam transisi energi global serta memperkuat perekonomian nasional ke depan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait