Pendekatan Sains Jadi Kunci Cegah Kebakaran TPA
Peneliti Ahli Utama BRIN, Wahyu Purwanta, menilai pendekatan berbasis sains menjadi kunci mencegah kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA). Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 13 Juli 2026, seiring rekomendasi pengelolaan sampah terencana, teknologi tepat guna, dan sistem deteksi dini berkelanjutan. Langkah ini bertujuan menekan risiko sejak tahap pengumpulan hingga pengolahan akhir.
Teknologi harus disesuaikan dengan kondisi lokal
Wahyu menekankan tidak ada satu teknologi yang cocok untuk semua wilayah. Pemilihan teknologi harus mempertimbangkan karakter sampah, kondisi geografis, infrastruktur, pembiayaan, dan kemampuan operasional jangka panjang. Keberhasilan tidak cukup dengan membeli mesin; operasional dan pengelolaan residu sama pentingnya.
"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan bergantung pada kesesuaian teknologi, kualitas operasi, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta pengelolaan residunya,"
Ragam opsi pengolahan sampah
Untuk fraksi organik, Wahyu menyarankan beberapa alternatif pengolahan yang sesuai. Pilihan itu meliputi pengomposan, biodigester, anaerobic digestion, maupun beberapa teknologi biokonversi tertentu. Material bernilai ekonomi perlu dipilah agar kembali ke rantai daur ulang.
Fraksi mudah terbakar juga dapat diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF) atau dimanfaatkan lewat teknologi termal dengan ketentuan lingkungan terpenuhi. Hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang idealnya masuk ke fasilitas akhir.
Deteksi dini dan sistem pemantauan
Wahyu menyoroti pentingnya pengembangan teknologi untuk mendeteksi dan mencegah kebakaran sejak awal. Beberapa alat dapat membantu menemukan titik panas sebelum api meluas.
- Kamera termal untuk deteksi hotspot
- Drone untuk pemantauan area luas
- Sensor gas dan temperatur untuk mendeteksi anomali
- Sistem peringatan dini berbasis cuaca dan pemantauan terpadu
"Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan. Teknologi itu meliputi kamera termal, drone, sensor gas, pengelolaan landfill, serta sistem peringatan dini berbasis cuaca,"
Memahami risiko dan penyebab
Menurut Wahyu, setiap TPA memiliki kombinasi bahan bakar yang bisa memicu kebakaran. Di antaranya plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, material organik kering, dan gas landfill. Sumber penyalaan awal sering sulit dipastikan tanpa investigasi mendalam.
"Unsur yang paling sulit dipastikan biasanya adalah sumber penyalaan awal. Penyebab spesifik kebakaran TPA Jatiwaringin sebaiknya menunggu hasil investigasi yang memadai sebelum disimpulkan,"
Langkah jangka panjang
Pendekatan jangka panjang harus menekankan pengurangan sampah campuran. Strategi 3R—reduce, reuse, recycle—ditambah pengolahan organik akan membuat TPA hanya menerima residu terkendali. Selain itu, integrasi parameter pemantauan ke dalam satu sistem peringatan dini dapat meningkatkan efektivitas pencegahan.
"Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini. Sistem tersebut disesuaikan dengan karakteristik sampah dan kondisi iklim Indonesia untuk meningkatkan efektivitas pencegahan,"
Dengan pendekatan ilmiah dan penerapan teknologi yang tepat sesuai kondisi setempat, risiko kebakaran TPA dapat ditekan secara signifikan. Upaya ini membutuhkan kolaborasi antarinstansi, investasi pada kapasitas operasional, serta komitmen pada pengurangan dan pemilahan sampah sebagai kebijakan berkelanjutan.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Malaysia Buka Peluang Kerja 1 Tahun untuk Lulusan melalui Graduate Pass
Malaysia buka peluang kerja 1 tahun bagi lulusan, termasuk mahasiswa Indonesia, lewat Graduate Pass yang ber...
NASA Luncurkan GRITSS, Satelit Mini untuk Tingkatkan Pemetaan Bumi
NASA meluncurkan GRITSS, CubeSat yang mengintegrasikan VLBI, GPS, dan Satellite Laser Ranging untuk meningka...
Rumah Pendidikan Raih Pengakuan Dunia di WSIS Prizes 2026
Rumah Pendidikan memenangkan kategori e-Government WSIS Prizes 2026, mengungguli 1.596 inovasi dari 122 nega...
Wamenkomdigi: Diplomasi Chip dan Mineral Kritis Jadi Alat Geopolitik
Wamenkomdigi Nezar Patria mendorong diplomasi chip dan pemanfaatan mineral kritis sebagai instrumen geopolit...
Universitas Bakrie Latih Siswa SMA Kelola Komunikasi Digital
Universitas Bakrie menggelar workshop bagi siswa SMA untuk meningkatkan literasi komunikasi digital dan meng...
TETO Serahkan Beasiswa Taiwan untuk 86 Pelajar Indonesia
TETO Indonesia menyerahkan Beasiswa Taiwan dan HES kepada 86 pelajar Indonesia di Binus University pada 10 J...