Defisit APBN Mei 2026 Melonjak Jadi Rp180,4 Triliun
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 mencatat defisit sebesar Rp180,4 triliun atau sekitar 0,70% dari PDB. Penyebab utama adalah lonjakan belanja negara yang bersifat ekspansif meski pendapatan tetap tumbuh positif.
Ringkasan angka utama
Posisi APBN per Mei 2026 menunjukkan belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun, naik 34,4% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan negara tumbuh 19,1% menjadi Rp1.185 triliun. Keseimbangan primer tetap di zona surplus, tercatat Rp58,6 triliun.
Sumber utama pendapatan
Penerimaan pajak menjadi andalan, dengan realisasi hingga Mei mencapai Rp834,4 triliun atau tumbuh 22,1% year-on-year. Selain pajak, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp123,8 triliun, naik tipis 0,7%.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga meningkat menjadi Rp226,4 triliun, tumbuh 19,9% dibanding tahun lalu.
Komposisi belanja
Belanja negara didominasi realisasi kementerian/lembaga (Belanja K/L) yang naik tajam menjadi Rp517,7 triliun atau tumbuh 58,9%. Belanja non-K/L juga meningkat signifikan menjadi Rp541,6 triliun (+47%).
Transfer ke daerah terealisasi sebesar Rp306,1 triliun, namun menurun 4,9% secara tahunan.
Keterangan pemerintah
"Hingga akhir Mei 2026, APBN terus optimal digunakan untuk shock absorber dan penggerak ekonomi. Pendapatan negara tumbuh kuat, sedangkan belanja negara ekspansif untuk memperkuat aktivitas ekonomi dan melindungi masyarakat,"
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Defisit pada Mei melebar dibanding posisi April yang tercatat Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB. Perlu dicatat, meskipun defisit meningkat, surplus keseimbangan primer menandakan bahwa beban bunga masih tertangani.
Implikasi dan langkah ke depan
Pemerintah menyatakan akan menjaga APBN agar tetap sehat, prudent, adaptif, dan kredibel. Langkah ini dimaksudkan untuk memperkuat stabilitas makro dan mendukung momentum pertumbuhan.
"Pemerintah akan menjaga APBN tetap sehat, prudent, adaptif dan kredibel. Sehingga memperkuat stabilitas, menjaga momentum pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan,"
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Ke depan, fokus pengelolaan APBN akan dipantau pada efektivitas belanja publik dan kesinambungan penerimaan pajak. Pemantauan ini penting untuk menyeimbangkan tujuan stabilitas fiskal dan dukungan terhadap pemulihan ekonomi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Galaxy Watch Ultra2: Smartwatch Tangguh untuk Aktivitas Outdoor
Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan ketahanan ekstrem dan analitik kesehatan berbasis AI, cocok untuk pelari tr...
NSIG Perkuat Jejaring Global Dorong Investasi Berkelanjutan di Sulut
NSIG perkuat jejaring global untuk menarik investasi berkelanjutan ke Sulawesi Utara lewat riset, B2B, dan b...
Chery Avante Buka Diler di Magelang, Harga di Bawah Rp300 Juta
Chery Avante membuka diler di Magelang (24 Juli 2026); harga di bawah Rp300 juta dan layanan penjualan serta...
Anggota Oriflame: Lebih dari Sekadar Menjual Produk
Younita, anggota Oriflame sejak 2020, menyebut keanggotaan soal mencoba produk, harga member gratis, dan par...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 per Gram - 25 Juli 2026
Harga emas Antam naik Rp7.000 per gram jadi Rp2.612.000 (25 Juli 2026); buyback juga naik. Simak rincian har...
Komisi VI Apresiasi Kinerja Positif Pelindo Semester I 2026
Komisi VI DPR mengapresiasi capaian positif Pelindo Semester I 2026 setelah kunjungan kerja di Surabaya; Pel...