Politik

Prabowo: 'Rakyat desa nggak pakai dolar' dan dampak pelemahan rupiah

Bagikan:
Ilustrasi pasar desa menunjukkan dampak pelemahan rupiah pada harga kebutuhan pokok

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Nganjuk (16/5) bahwa "rakyat desa nggak pakai dolar" memicu diskusi soal bagaimana pelemahan rupiah dan gejolak global sebenarnya masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Pernyataan itu dimaksudkan menjaga optimisme publik, tetapi tekanan nilai tukar, kenaikan harga energi, dan ketergantungan impor membuat dampak ekonomi terasa nyata di pedesaan.

Dolar, rupiah, dan realitas dapur rumah tangga

Pengaruh dolar kini tidak hanya berada di pasar keuangan. Kenaikan nilai dolar membuat harga barang impor lebih mahal. Akibatnya, biaya produksi pertanian, ongkos melaut, dan harga bahan pokok di pasar tradisional ikut terdorong naik.

"rakyat desa nggak pakai dolar"

Meskipun narasi optimisme penting, pelemahan rupiah telah berubah menjadi masalah sehari-hari: pupuk mahal, harga kedelai naik, dan ongkos distribusi meningkat.

Energi, geopolitik, dan tekanan pada harga

Ketegangan di Timur Tengah dan potensi gangguan di Selat Hormuz mendorong kenaikan harga energi global. Data menunjukkan Selat Hormuz menjadi lintasan signifikan bagi perdagangan minyak dan LNG dunia. Saat pasar energi bergerak, investor mencari aset aman seperti dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang ikut tertekan.

Tekanan ini memicu inflasi biaya produksi di dalam negeri, sekaligus mendorong harga pupuk dan produk petrokimia yang sangat bergantung pada energi.

Petani, pupuk, dan data yang memperingatkan

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menyerap tenaga kerja terbesar, sekitar 29 persen dari total angkatan kerja nasional menurut Badan Pusat Statistik. Ketika pupuk dan energi naik, petani kecil langsung merasakan beban biaya yang meningkat.

Bank Dunia dalam Commodity Markets Outlook April 2026 memperingatkan harga pupuk global berpotensi naik sekitar 31 persen pada 2026, dengan skenario urea melonjak hingga sekitar 60 persen. Harga DAP tercatat naik sekitar 23 persen sepanjang 2025.

Ketergantungan impor pada pangan dan energi

Ketergantungan impor memperkuat penularan gejolak global ke desa. Impor kedelai Indonesia sepanjang 2024 mencapai sekitar 2,67 juta ton, sementara produksi domestik hanya sekitar 230 ribu ton (data Kementerian Pertanian 2025). Kesempatan ini membuat tahu dan tempe rentan terhadap fluktuasi kurs.

Sektor energi rumah tangga juga terdampak. Data Kementerian ESDM per Februari 2026 menunjukkan ketergantungan impor LPG mencapai sekitar 84 persen dari kebutuhan nasional. Konsumsi berada di kisaran 8,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi domestik sekitar 1,6–1,7 juta ton.

Pemerintah telah mengambil langkah kebijakan, termasuk penghapusan bea masuk untuk LPG industri petrokimia dan sejumlah produk plastik pada April 2026, untuk meredam tekanan biaya produksi.

Arah kebijakan dan langkah yang diperlukan

Stabilitas ekonomi memerlukan kebijakan yang konsisten dan terukur. Selain menjaga cadangan fiskal dan moneter, penguatan produksi domestik menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor pada pangan, energi, dan bahan baku strategis.

Optimisme memang penting, tetapi tanpa kebijakan yang melindungi daya beli dan produksi lokal, narasi semata tidak cukup. Penguatan sektor produksi dan ketahanan pasokan akan membuat dampak pelemahan rupiah tidak mudah menular sampai ke dapur rumah tangga.

BACA ARTIKEL LAIN DI GOOGLE NEWS

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!