Nasional

Sarjito: 3 Tantangan Utama Pembangunan Bursa Mineral Strategis

Bagikan:
Sarjito memaparkan tantangan pembangunan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis di DPR

Sarjito, terpilih sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) OJK untuk periode 2026–2031, memaparkan tiga tantangan utama pembangunan bursa tersebut saat uji kelayakan di DPR, Senin, 24 Agustus 2026. Tantangan itu meliputi kedaulatan harga, integritas perdagangan, dan integrasi serta kedalaman pasar.

Tiga tantangan utama

Sarjito merinci bahwa tantangan pertama berkaitan dengan kedaulatan harga. Indonesia disebutnya sebagai produsen besar beberapa mineral. Namun penentuan harga acuan masih bergantung pada bursa global.

“Bagaimana mungkin kita sebagai produsen atau penghasil timah terbesar di dunia, penghasil nikel terbesar di dunia. Tetapi harganya tidak ditentukan oleh negara kita sendiri, melainkan ditentukan di negara lain,”

Dia menegaskan kondisi ini membuat pengaruh Indonesia terhadap harga belum sebanding dengan kapasitas produksi nasional.

Risiko kebocoran ekonomi dan praktik perdagangan

Tantangan kedua berfokus pada integritas perdagangan dan potensi kebocoran penerimaan negara. Sarjito menyoroti praktik under invoicing dan transfer pricing yang merugikan negara.

“Rasanya bukan lagi menjadi diskusi. Ini adalah fakta bahwa terdapat risiko under invoicing baik dari sisi volume maupun harga, dan ini sangat merugikan negara,”

Menurutnya, masalah makin rumit ketika beneficial ownership pihak berelasi berada di luar negeri sehingga pelacakan menjadi sulit.

Integrasi pasar dan kedalaman ekosistem

Tantangan ketiga adalah integrasi dan kedalaman pasar yang belum optimal. Ia menilai ekosistem perdagangan komoditas masih terfragmentasi dan partisipasi pelaku perlu diperluas.

“Ekosistem masih sangat terfragmentasi, keterlibatan pelaku masih perlu diperluas dan produk-produk yang akan dijual juga perlu dikualifikasi,”

Sarjito menekankan perlunya ekosistem yang terintegrasi, dalam, likuid, dan terpercaya sebagai dasar pengembangan BMKS.

Delapan pilar BMKS

Dalam konsep pengembangan, Sarjito menyebutkan adanya delapan pilar BMKS. Beberapa pilar yang disebutkan antara lain:

  • Infrastruktur
  • Pasar
  • Produk
  • Data
  • Regulator
  • Ekosistem terpercaya

Penguatan pilar-pilar ini dianggap penting agar bursa mampu berjalan efektif dan menghasilkan pasar yang kredibel.

Batas waktu dan target perubahan peran Indonesia

Sarjito mengingatkan pembangunan BMKS dihadapkan pada keterbatasan waktu. Sejumlah regulasi dan kelembagaan harus segera disiapkan agar amanat tersebut terlaksana.

“Dan ini amanat yang sangat berat, mengingat waktunya juga sudah sangat sempit, tinggal beberapa bulan. Oleh karena itu, kita harus bangun kepercayaan,”

Ia menargetkan BMKS dapat mengubah posisi Indonesia dalam perdagangan global. Tujuannya agar Indonesia tidak sekadar menjadi price taker, tetapi berkembang menjadi price influencer hingga price maker, sehingga nilai tambah sumber daya alam nasional meningkat.

Implementasi langkah-langkah tersebut akan menentukan kemampuan BMKS dalam memperkuat kedaulatan harga, menutup kebocoran ekonomi, dan menciptakan pasar komoditas yang lebih terintegrasi serta berdaya saing.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait