Fadli Zon: Buku Riset Kebudayaan Jangan Hanya Disimpan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon meminta agar buku hasil riset dan publikasi kebudayaan tidak hanya disimpan di gudang, tetapi dapat diakses publik. Pernyataan itu disampaikan saat peresmian Perpustakaan Ranggawarsita di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026. Ia menekankan pentingnya mengumpulkan karya-karya yang dibiayai APBN supaya menjadi sumber pengetahuan yang berguna bagi masyarakat dan peneliti.
Perpustakaan Ranggawarsita sebagai pusat koleksi
Fadli menjelaskan bahwa banyak publikasi kebudayaan terbit sejak 1970-an sampai 1990-an tersebar dan sulit ditemukan. Kondisi ini membuat hasil penelitian, transliterasi naskah kuno, dan proyek penerbitan pemerintah kurang termanfaatkan.
Untuk mengatasi masalah itu, semua koleksi fisik dihimpun di Perpustakaan Ranggawarsita agar lebih mudah diakses masyarakat. Langkah ini juga dimaksudkan untuk menjaga agar investasi APBN tidak mubazir.
"Buku-buku itu tercerai-berai, ada yang di gudang, ada yang tersimpan di berbagai tempat dan tidak dimanfaatkan. Padahal buku-buku itu dibiayai oleh APBN dan merupakan hasil penelitian serta program kebudayaan,"
Jenis koleksi yang dihimpun
Kementerian Kebudayaan menyatakan perpustakaan akan memuat berbagai jenis publikasi dari program kementerian. Koleksi yang dihimpun mencakup:
- buku hasil penelitian kebudayaan;
- katalog pameran dan publikasi museum;
- dokumen cagar budaya dan transliterasi naskah kuno.
Tujuannya adalah membangun satu pusat referensi kebudayaan yang lengkap dan mudah diakses publik.
Digitalisasi untuk memperluas akses
Selain menghimpun koleksi fisik, Kementerian Kebudayaan terus memperluas program digitalisasi publikasi. Fadli mengatakan digitalisasi penting agar referensi dari berbagai daerah dapat diakses lebih luas dan cepat.
Dengan strategi ini, materi lama yang tersebar dapat diindeks dan diakses oleh peneliti, pelajar, dan masyarakat umum tanpa harus menelusuri lokasi fisik koleksi.
Perpustakaan dan museum lain yang disiapkan
Fadli mengungkapkan Kemenbud juga akan meresmikan perpustakaan di Museum Nasional. Perpustakaan itu diperkirakan memiliki sekitar 30.000 buku, termasuk koleksi dari masa kolonial Belanda. Selain itu, sedang disiapkan perpustakaan di Galeri Nasional yang fokus pada seni rupa.
Lebih jauh, Kemenbud mengumumkan rencana pendirian Museum Film, Museum Fotografi, dan Museum Musik untuk memperkaya infrastruktur kebudayaan nasional.
Langkah menghimpun dan mendigitalisasi koleksi riset kebudayaan bertujuan menciptakan layanan publik yang lebih baik dan memastikan hasil riset berkontribusi nyata pada pemahaman budaya nasional ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...