Nasional

Bukittinggi Kota Perjuangan: Menbud Fadli Dorong Pengakuan

Bagikan:
Jam Gadang Bukittinggi pada peringatan 100 tahun

Bukittinggi Kota Perjuangan: Menteri kebudayaan Fadli Zon mendorong agar Bukittinggi diakui sebagai Kota Perjuangan Indonesia saat membuka Seminar Internasional Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda di Bukittinggi, Minggu, 21 Juni 2026. Dorongan ini mengaitkan peran historis kota dengan peringatan 100 tahun Jam Gadang dan upaya pemulangan benda budaya.

Menurut Menbud, Bukittinggi Kota Perjuangan layak mendapat pengakuan karena kota itu menjadi pusat aktivitas politik dan perlawanan pada masa revolusi. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan diskusi yang menyoroti perjalanan pergerakan kemerdekaan dan hubungan sejarah antara Indonesia dan Belanda.

Alasan dorongan pengakuan

Fadli menilai Bukittinggi bukan sekadar lokasi wisata. Kota ini lahirkan tokoh-tokoh bangsa dan menjadi basis perjuangan ketika pemerintah pusat menghadapi tekanan agresi militer. Ia menyebut keberadaan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) sebagai bukti peran strategis Sumatra Barat dan Bukittinggi dalam menjaga kelangsungan negara.

Bukittinggi memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Saya termasuk yang sejak lama mendorong agar Bukittinggi dikenal sebagai Kota Perjuangan karena peran historisnya yang sangat besar.

Seabad Jam Gadang: simbol dan identitas

Perayaan 100 tahun Jam Gadang menjadi momentum untuk menegaskan kembali nilai historis dan budaya kota. Menbud menjelaskan menara jam itu dibangun pada masa kolonial sebagai hadiah dan kini berfungsi sebagai identitas budaya masyarakat Minangkabau.

Jam Gadang, yang dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, menurut Fadli bukan hanya penanda waktu tetapi juga simbol perjalanan sejarah masyarakat lokal. Perayaan seabad ini memperkuat alasan mengapa Bukittinggi dipandang layak mendapat sebutan khusus sebagai kota perjuangan.

Kerja sama kebudayaan dan repatriasi

Selain aspek sejarah, pembicaraan dalam seminar juga menyinggung kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Belanda. Fadli memandang program repatriasi benda budaya dari Belanda sebagai langkah penting untuk menghadirkan keadilan sejarah dan memperkuat hubungan bilateral melalui pendekatan kultural.

Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, ikut memberi sambutan melalui sambungan video. Ia menyatakan hubungan kedua negara kini bergerak ke arah kolaborasi di bidang pendidikan dan budaya, tidak semata berfokus pada masa lalu.

Pemerintah berharap peringatan 100 Tahun Jam Gadang memperkuat kesadaran sejarah dan peran Bukittinggi bagi republik.

Penegasan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan bisa mempengaruhi kebijakan pelestarian situs sejarah, program pendidikan sejarah, dan agenda repatriasi ke depan. Langkah formal pengakuan akan membutuhkan kajian sejarah, dukungan pemerintahan daerah, dan sinergi lintas kementerian.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait