BPOM Perketat Sertifikasi CPOB untuk Cegah Gagal Ginjal Anak
BPOM memperketat sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada industri farmasi untuk mencegah terulangnya kasus gagal ginjal akut pada anak seperti pada 2022. Pernyataan itu disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar saat jumpa pers di Kantor BPOM, Jakarta, Senin, 14 September 2026. Langkah ini meliputi pemeriksaan bahan baku sampai produk jadi, audit rantai produksi, pengujian laboratorium, serta keterlibatan publik.
Perketatan sertifikasi CPOB
BPOM menegaskan setiap industri harus melalui pemeriksaan ketat sebelum menerima sertifikat CPOB. Pemeriksaan mencakup uji cemaran kimia berbahaya pada bahan baku dan produk jadi. Tujuannya memastikan tidak ada residu atau kontaminan yang membahayakan konsumen.
Tekad kami, sejarah kelam tahun 2022 tidak akan terjadi lagi untuk masa-masa depan. Salah satu poin paling ketat adalah memperketat good manufacturing practice
Audit dan pengujian laboratorium
BPOM memperluas audit rantai produksi untuk menemukan potensi masalah sejak awal. Selain audit, pengujian laboratorium dilakukan pada tahap bahan baku, bahan tambahan, dan produk akhir. Langkah ini dimaksudkan agar produk bermasalah tidak beredar luas ke masyarakat.
Peran masyarakat dan regulasi
Pengawasan juga diperkuat lewat keterlibatan publik berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2025. Regulasi ini memberi ruang lebih luas bagi masyarakat untuk melaporkan produk bermasalah dan ikut memantau peredaran obat serta makanan.
Dengan keterlibatan masyarakat, mata pengawas kami bukan hanya ribuan orang, tetapi sudah jutaan orang. Partisipasi publik menjadi kekuatan dalam pengawasan obat dan makanan
Penegakan hukum terhadap industri bermasalah
BPOM menyatakan telah melakukan penindakan terhadap industri yang terbukti melanggar aturan. Penindakan mencakup penarikan produk, proses hukum, dan penutupan fasilitas produksi berdasarkan putusan pengadilan.
Ada beberapa industri bermasalah yang menyebabkan produksi itu telah ditindaki melalui keputusan pengadilan. Produknya ditarik, bahkan industrinya juga ditutup
Rekap kasus GGAPA 2022
Penyebaran Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada paruh kedua 2022 dikaitkan dengan obat sirop yang tercemar Etilen Glikol dan Dietilen Glikol. Cemaran ditemukan pada pelarut tambahan seperti propilen glikol dan gliserin. Kondisi ini memicu kerusakan ginjal mendadak pada sejumlah anak.
| Jumlah Kasus | Provinsi Terdampak | Kematian |
|---|---|---|
| 326 | 27 | 204 |
Kasus tersebut memicu penarikan massal obat sirop serta proses pidana terhadap beberapa perusahaan. Pemerintah juga memperbarui sistem pengujian cemaran pelarut untuk memperkuat perlindungan publik.
Dengan langkah pengawasan, audit, pengujian laboratorium, dan peran aktif masyarakat, BPOM berharap risiko serupa dapat diminimalkan dan keselamatan pasien, khususnya anak, dapat lebih terjaga.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Menteri Ekraf Perkuat Ekosistem Peranti Lunak Nasional di IN APPS 2026
Menteri Ekraf buka IN APPS 2026 di ICE BSD untuk memperkuat ekosistem peranti lunak nasional dan menjadikan...
Suahasil: Efisiensi APBN Bukan Sekadar Pangkas Belanja
Menkeu Suahasil menegaskan efisiensi APBN diukur dari output maksimal, bukan sekadar pemangkasan belanja.
Wapres: Suahasil Tepat Kelola APBN Usai Dilantik
Wapres Gibran yakin Suahasil Nazara tepat kelola APBN setelah dilantik Menkeu. Dukungan resmi datang dari Wa...
Menhan Sjafrie Minta Penguatan Peran BPKP sebagai Instrumen Negara
Menhan Sjafrie meminta BPKP diperkuat sebagai instrumen negara agar pengawasan efektif dan aparatur siap men...
Cegah Karhutla, PT SHJ Tanam Jagung Bersama Warga Muara Bengkal
PT SHJ tanam jagung di Desa Benua Baru, Kutai Timur, untuk ketahanan pangan dan pencegahan karhutla dengan l...
Strategi Hadapi El Nino demi Swasembada Pangan
Pemerintah dan petani siapkan irigasi suplementer, irigasi tetes, dan diversifikasi komoditas untuk menjaga...