Nasional

Birokrasi Hambat Peringatan Dini Erupsi di Kawasan Pelosok

Bagikan:
Pos pengamatan gunung api di daerah terpencil dengan antena dan peralatan seismik

Alur birokrasi dan keterbatasan kewenangan pos pengamatan menghambat kecepatan peringatan dini erupsi gunung api di kawasan pelosok Indonesia. Pos-pos di daerah terpencil masih mengirim data seismik ke pusat untuk dianalisis, sehingga rekomendasi mitigasi terlambat sampai ke pemerintah daerah dan masyarakat yang terdampak.

Kendala alur data dan kewenangan

Pos pengamatan di daerah terpencil umumnya merekam aktivitas seismik lalu meneruskan data ke kantor pusat PVMBG di Bandung. Analisis yang terpusat memperpanjang jeda antara pengamatan awal dan keluarnya rekomendasi teknis.

Akibatnya, proses pengambilan keputusan evakuasi dan penyediaan fasilitas pengungsian oleh pemerintah daerah bergantung pada kecepatan rekomendasi dari pusat. Tanpa delegasi kewenangan yang memadai, respons di lapangan berisiko terlambat.

Pelajaran dari Gunung Merapi

Model komunikasi terpadu di Gunung Merapi disebut sebagai contoh yang efektif. Pos pemantauan di Merapi memiliki status kelembagaan yang memungkinkan koordinasi langsung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah kabupaten secara cepat.

"Di Merapi komunikasi dengan BPBD di empat atau lima kabupaten sangat bagus, bahkan masyarakat desa terdekat aktif berkomunikasi sehingga informasi berjalan sangat cepat,"

Integrasi data yang cepat di Merapi memungkinkan rekomendasi mitigasi, termasuk evakuasi, disampaikan secara paralel ke berbagai pihak tanpa menunggu proses birokrasi panjang.

Reformasi yang diperlukan

Pakar vulkanologi menilai perlu ada reformasi alur koordinasi teknis dari pusat hingga pos pengamatan terdepan. Fokus perbaikan meliputi pemberian mandat komunikasi langsung bagi pos lokal dan efisiensi pengiriman data agar informasi darurat diterima masyarakat secara instan.

"Hasil analisis dari Bandung dikembalikan ke pos pengamatan, nah yang harus ditingkatkan adalah bagaimana pos ini diberi mandat untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat setempat,"

Penguatan tata kelola mitigasi tidak hanya soal modernisasi peralatan ilmiah. Kecepatan dan ketepatan alur komunikasi darurat menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa di daerah rawan.

Prioritas pemantauan dan tanggung jawab daerah

Tingkat prioritas pemantauan ditentukan oleh besarnya risiko terhadap pemukiman. Gunung di wilayah padat penduduk seperti Jawa, Sumatra, dan Flores membutuhkan respons mitigasi yang lebih sigap.

Pemerintah daerah memiliki peran utama mengeksekusi evakuasi dan menyiapkan sarana pengungsian. Namun, efektivitas tindakan tersebut sangat bergantung pada kecepatan rekomendasi sains dari pusat.

Tanpa perubahan alur koordinasi dan perluasan kewenangan pos pengamatan, risiko keterlambatan penanganan bencana di pelosok akan terus meningkat. Oleh karena itu, reformasi sistem komunikasi teknis dianggap mendesak untuk memperkuat mitigasi erupsi di seluruh Indonesia.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait