USU Terapkan Biogas dari Limbah Ternak di Desa Bekiung
Medan — Tim Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara meluncurkan program pemberdayaan masyarakat tani untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi biogas di Desa Bekiung, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Program ini bertujuan mengatasi pencemaran lingkungan dan kebutuhan energi rumah tangga lewat teknologi biogas skala rumah tangga dan kelompok.
Latar belakang masalah
Desa Bekiung memiliki populasi sapi yang cukup tinggi. Hampir setiap rumah tangga memelihara dua hingga sepuluh ekor sapi. Namun pengelolaan kotoran masih konvensional sehingga menimbulkan bau, kondisi kandang becek, dan potensi pencemaran terutama saat musim hujan. Program ini dirancang untuk mengubah masalah limbah menjadi sumber energi terbarukan dan pupuk organik.
Teknologi dan kegiatan lapangan
Tim dosen dan mahasiswa memperkenalkan instalasi biogas sederhana yang dapat digunakan oleh satu rumah tangga atau kelompok tani. Prosesnya mengubah kotoran sapi melalui fermentasi anaerob menjadi gas metana untuk keperluan memasak, serta menghasilkan slurry yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Rangkaian kegiatan meliputi:
- Sosialisasi manfaat dan teknik operasional biogas;
- Pelatihan dan praktik pemasangan instalasi;
- Pembangunan unit biogas demonstrasi;
- Pendampingan operasional dan evaluasi bersama mitra.
Kelembagaan dan peran warga
Ketua Tim Pengabdian, R.B. Moh. Ibrahim Fatoni, S.Pi., M.P., bersama anggota Hafnes Wahyuni, S.P., M.P., dan Kennie Cendekia Desnamrina, S.Pt., M.Pt., menekankan pentingnya penguatan kelembagaan kelompok tani. Tujuannya agar pengelolaan biogas dapat dikelola mandiri dan berkelanjutan setelah program berakhir.
Wakil Kepala Desa Bekiung menyambut baik inisiatif ini dan berharap teknologi dapat direplikasi ke lebih banyak rumah tangga. Ketua BUMDes Bangun Mandiri menyatakan kegiatan selaras dengan rencana pengembangan Desa Eduwisata di Dusun Sido Mulio.
Dampak terhadap ekonomi dan lingkungan
Ketua Kelompok Ternak menyebut biogas membantu mengurangi ketergantungan pada elpiji yang sulit diakses dan mahal. Selain menurunkan biaya energi rumah tangga, pemanfaatan slurry juga mendukung pengurangan penggunaan pupuk kimia.
Program ini menyasar beberapa target SDGs, antara lain SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Pendanaan dan prospek
Kegiatan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdikbudsaintek tahun anggaran 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat – Kemitraan Masyarakat. Lima mahasiswa Program Studi Agroteknologi dan Peternakan juga terlibat untuk mendapatkan pengalaman lapangan.
Ke depan, tim berharap teknologi biogas ini dikembangkan lebih luas sehingga Desa Bekiung menjadi lebih mandiri energi, ramah lingkungan, dan sejahtera.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Motor Dilaporkan Hilang di Siantar, Ternyata Diamankan Polisi
Sepeda motor yang dilaporkan hilang di Pasar Horas, Pematangsiantar, ternyata diamankan petugas karena terpa...
Polres Tapteng Perketat Gaktibplin untuk Cegah Judi Online
Polres Tapanuli Tengah gelar Gaktibplin 20 Agustus untuk periksa HP dan penampilan personel guna mencegah ke...
SK Gubsu untuk PAW DPRD Tapsel Diterima 10 Hari Setelah Terbit
SK Gubsu tentang PAW DPRD Tapsel terbit 10 Agustus 2026, namun baru diterima DPRD pada 20 Agustus; pelantika...
Polres Langsa Musnahkan 3,09 kg Sabu dan 13,74 kg Ganja dari 4 Kasus
Polres Langsa memusnahkan 3.090 gram sabu dan 13.741 gram ganja dari empat kasus Mei–Agustus 2026 untuk memb...
IAIN Langsa Bawa Riset dan Pengabdian ke IDMAC Penang 2026
Dosen dan mahasiswa FEBI IAIN Langsa tampil di IDMAC Penang 18-19 Agustus 2026, mempresentasikan riset, mela...
Anggota DPRD Padangsidimpuan Absen Saat RDP Ranperda
Seluruh anggota DPRD Padangsidimpuan absen saat RDP Ranperda (20/8); warga AMB protes dan minta penjadwalan...