Lokal

Hilirisasi Bauksit: Proyek Smelter Mempawah dan Tantangan Energi

Bagikan:
Kegiatan di smelter dan fasilitas peleburan aluminium di Indonesia

Indonesia memulai transformasi pengelolaan bauksit dengan peletakan batu pertama fasilitas pengolahan dan peleburan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada 6 Februari 2026. Proyek yang dikelola PT Borneo Alumina Indonesia—patungan INALUM dan ANTAM di bawah MIND ID—ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah dari bauksit lokal, memperbesar kapasitas alumina, serta membangun rantai industri aluminium hulu-hilir di dalam negeri.

Proyek di Mempawah: kapasitas dan target

Pembangunan mencakup perluasan kilang pemurnian Smelter Grade Alumina Refinery Fase 2 dan pabrik peleburan aluminium. Setelah beroperasi, kapasitas produksi alumina domestik naik dari 1 juta ton menjadi 2 juta ton per tahun. Untuk itu dibutuhkan penyerapan bauksit sekitar 6 juta ton per tahun yang akan dipasok dari Mempawah dan Landak.

Secara nilai, satu ton bauksit mentah hanya bernilai sekitar 30–40 dolar AS. Namun alumina dan aluminium murni bisa bernilai lebih dari 2.300 dolar AS per ton, sehingga hilirisasi berpotensi mengembalikan nilai tambah besar ke dalam negeri.

Tantangan energi, teknologi, dan investasi

Transformasi ini menghadapi tiga tantangan utama: kebutuhan teknologi pengolahan, pasokan energi berskala besar, dan investasi miliaran dolar. Proses pemurnian menjadi alumina dan peleburan menjadi aluminium memerlukan energi sangat besar, terutama pada tahap peleburan.

"Mengubah bauksit menjadi aluminium di dalam negeri sendiri adalah langkah strategis yang tidak bisa ditunda lagi... agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat berputar dan tumbuh di negeri ini sendiri," ujar Melati Sarnita, Direktur Utama INALUM.

Pengamat industri Ir. Surya Darma menekankan bahwa biaya listrik menyumbang 30–40 persen dari total biaya produksi. Ketergantungan pada pembangkit batu bara membuat biaya listrik domestik relatif lebih tinggi dibanding negara pesaing yang memanfaatkan tenaga air.

Dampak sosial dan lingkungan

Perubahan struktur industri tidak boleh mengorbankan lingkungan hidup dan kesejahteraan warga lokal. Warga menuntut pengelolaan tambang dan pabrik yang transparan, pengawasan ketat, serta keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Tanpa itu, keuntungan ekonomi berisiko berubah menjadi beban lingkungan jangka panjang.

Langkah kebijakan dan masa depan

Pemerintah telah menerapkan larangan ekspor bijih bauksit sejak 2022 dan menyusun peta jalan hilirisasi. Rencana mencakup pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil, insentif untuk teknologi rendah karbon, dan program pelatihan tenaga kerja lokal agar putra-putri daerah dapat bekerja di industri baru.

Perjalanan ini membutuhkan waktu dan kesinambungan kebijakan antar-pemerintahan. Jika berhasil, bangsa akan mendapat manfaat berkelanjutan: aluminium yang diproduksi di tanah sendiri bisa menjadi bahan baku kereta cepat, panel surya, hingga pesawat dan produk teknologi yang menggunakan tenaga kerja lokal.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait