Petani Bondowoso Tertekan Biaya Produksi, DPR Minta Pemerintah Bertindak
BONDOWOSO — Anggota Komisi IV DPR RI, Sony T. Danaparamita, menyoroti kenaikan biaya produksi yang membebani petani Bondowoso pada Selasa (19/5/2026). Sony mengingatkan pemerintah pusat menjaga kesejahteraan petani di tengah upaya swasembada pangan nasional.
Kenaikan biaya produksi dan dampak
Sony menyebut kenaikan harga pupuk dan pestisida menjadi masalah utama. Ia mengatakan sektor pertanian adalah tulang punggung perekonomian Bondowoso karena memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB.
Namun, menurutnya, produktivitas yang tinggi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan petani. Banyak keluarga petani masih kesulitan menutup kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan sosial akibat biaya produksi yang melonjak.
Pupuk subsidi dan harga gabah
Sony menyatakan Komisi IV telah mengingatkan Kementerian Pertanian soal kebutuhan pupuk. Ia menyambut peningkatan kuota pupuk subsidi yang kini lebih tersedia bagi petani.
"Kami di Komisi IV sudah mengingatkan Kementerian Pertanian terkait kebutuhan pupuk petani. Sekarang sudah ada peningkatan kuota pupuk subsidi untuk petani,"
Sony juga menilai kebijakan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram membantu menjaga nilai jual hasil panen. Ia meminta masyarakat melaporkan jika ada harga di bawah ambang tersebut.
"Kalau ada harga gabah di bawah Rp6.500, silakan laporkan ke saya, ke rumah aspirasi, atau ke Bulog. Itu tidak boleh terjadi,"
Dorongan modernisasi: alsintan dan pengelolaan
Sony mendorong modernisasi pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Ia berjanji memperjuangkan bantuan sesuai kebutuhan kelompok tani, termasuk bibit dan alsintan.
"Bibit jagung misalnya, kami sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,"
Namun, ia mengingatkan bahwa bantuan harus dikelola profesional. Banyak alsintan cepat rusak karena perawatan dan manajemen yang lemah. Sony menyarankan pembentukan unit jasa alsintan di tingkat kelompok tani atau gapoktan agar penggunaan alat lebih tertata dan adil.
Kekurangan penyuluh dan langkah Komisi IV
Sony juga menyoroti minimnya jumlah penyuluh pertanian lapangan (PPL). Ia menegaskan belum semua desa memiliki penyuluh sesuai amanat undang-undang.
"Kalau penyuluh pertanian kurang, ini akan menjadi kendala besar. Padahal undang-undang mengamanatkan satu desa satu penyuluh,"
Sebagai tindak lanjut, Komisi IV telah memanggil Badan Kepegawaian Negara dan Kementerian PAN-RB untuk mencari solusi kekurangan tenaga penyuluh, termasuk persoalan tenaga SPPL yang belum lolos seleksi.
Implikasi: Tekanan biaya produksi, jika tidak ditangani, berisiko menurunkan kesejahteraan petani dan stabilitas pasokan pangan lokal. Sony menekankan pemerintah harus menanggung dampak gejolak harga global agar beban tidak jatuh pada petani.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Bangkalan Gelar Upacara HUT ke-81 RI, 1.000 Pelajar Tampil
Pemkab Bangkalan menggelar upacara HUT ke-81 RI di Alun-alun pada 17 Agustus 2026, dimeriahkan aubade 1.000...
Novita Hardini Serahkan Dua Ambulans Gratis untuk Warga Trenggalek
Novita Hardini menyerahkan dua ambulans gratis di Trenggalek pada 17 Agustus 2026 untuk memperkuat layanan k...
Plt Ketua DPRD Bacakan Proklamasi di Upacara HUT ke-81 RI Magetan
Plt Ketua DPRD Magetan, H. Suyatno, membacakan Naskah Proklamasi dan mengajak warga berdoa serta bersolidari...
PDI Perjuangan Jatim Galang Bantuan untuk Korban Gempa Flores
PDI Perjuangan Jatim menggalang bantuan untuk korban gempa Flores dan Baguna siap diterjunkan setelah koordi...
Eri Cahyadi: Pancasila dan Gotong Royong untuk Kesejahteraan Surabaya
Wali Kota Eri Cahyadi minta warga Surabaya aktif gotong royong dan mengamalkan Pancasila untuk atasi kesenja...
Bupati Sumenep: HUT ke-81 RI Harus Terwujud lewat Pelayanan dan Pembangunan
Bupati Sumenep menegaskan HUT ke-81 RI harus diwujudkan lewat pelayanan publik, pemerataan pembangunan, dan...