BI Naikkan Suku Bunga, Rupiah Menguat 129 Poin
Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada 9 Juni 2026. Keputusan itu mendorong rupiah menguat signifikan, menutup perdagangan naik 0,71 persen atau 129 poin menjadi Rp18.058 per dolar AS. Kebijakan ini diambil untuk menstabilkan nilai tukar dan meredam tekanan inflasi.
Respons pasar dan data penutupan
Pasar valuta asing merespons positif kenaikan suku bunga BI. Menurut catatan perdagangan, rupiah menutup sesi harian dengan penguatan signifikan. Sentimen tersebut tercatat bersama kenaikan imbal hasil obligasi global dan penguatan dolar di sebagian waktu perdagangan.
Analisis pasar menunjukkan investor menilai langkah BI sebagai sinyal pengetatan moneter yang dapat menahan pelemahan mata uang domestik.
Tujuan kebijakan: stabilisasi nilai tukar dan kendali inflasi
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan kenaikan suku bunga merupakan upaya menstabilkan rupiah dan menahan laju inflasi. Ia menekankan pentingnya langkah BI agar nilai tukar tidak tertekan lebih lanjut.
“Langkah BI menaikkan suku bunga merupakan langkah yang tepat untuk menstabilkan nilai tukar rupiah,”
Ibrahim juga memperingatkan bahwa tekanan inflasi berpotensi meningkat karena kenaikan harga barang impor. Menurutnya, kebijakan moneter harus didukung kebijakan fiskal untuk mencapai target inflasi pemerintah.
“Karena kemungkinan besar inflasi akan naik akibat naiknya harga barang-barang impor,”
Pemerintah menargetkan inflasi tahun 2026 dan 2027 pada 2,5 persen plus minus 1 persen. Koordinasi kebijakan dinilai krusial untuk menjaga target tersebut.
Kekhawatiran fiskal dan intervensi BI
Ibrahim menilai penguatan rupiah masih rentan. Salah satu sumber kerentanan adalah ketidakpastian apakah defisit fiskal dapat ditekan di bawah ambang 3 persen.
“BI sejauh ini sudah ‘all out’ melakukan intervensi di pasar valas dalam dan luar negeri,”
Intervensi tersebut menunjukkan upaya aktif otoritas untuk menahan gejolak nilai tukar, namun efektivitasnya akan bergantung pada kondisi fiskal dan aliran modal global.
Faktor eksternal dan prospek inflasi AS
Dari luar negeri, ada sinyal meredanya ketegangan antara Israel dan Iran, meski ancaman balasan masih tersisa. Kondisi geopolitik ini tetap menjadi risiko bagi sentimen pasar.
Di sisi lain, pelaku pasar menunggu rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk Mei. Ekspektasi kenaikan inflasi AS mendorong imbal hasil obligasi dan memperkuat dolar, yang pada gilirannya memberi tekanan pada mata uang emerging market.
“Pelaku pasar akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen Amerika Serikat untuk bulan Mei yang akan dirilis hari Rabu. IHK diprakirakan menjadi 4,2 persen secara tahunan, naik dari 3,8 persen di bulan April,”
Secara keseluruhan, keputusan BI mengerek suku bunga mendapat respons positif dan membantu penguatan rupiah pada penutupan perdagangan. Namun, prospek jangka menengah masih bergantung pada perkembangan inflasi domestik, kebijakan fiskal, dan dinamika eksternal.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...